A. Prinsip Utama Pembelajaran Berdiferensiasi (Tomlinson, 2013)
Ada lima prinsip dasar yang menjadi fondasi pembelajaran berdiferensiasi, yaitu sebagai berikut:
- Lingkungan Belajar
Guru menciptakan suasana kelas yang nyaman, aman, positif, dan mendukung interaksi antar siswa. - Kurikulum Berkualitas
Kurikulum harus punya tujuan jelas dan fokus pada pemahaman, bukan hafalan semata. - Asesmen Berkelanjutan
Guru terus menilai perkembangan siswa melalui:- Asesmen awal (diagnostik)
- Asesmen proses (formatif)
- Asesmen akhir (sumatif)
- Pengajaran yang Responsif
Guru mengubah cara mengajar berdasarkan hasil asesmen dan kebutuhan siswa. - Kepemimpinan & Rutinitas Kelas
Guru memimpin kelas melalui aturan yang disepakati, prosedur yang jelas, dan rutinitas yang membantu pembelajaran berjalan lancar.
B. Konsep Dasar DBL
- Pembelajaran berdiferensiasi muncul karena setiap siswa berbeda (minat, bakat, kemampuan, pengalaman, gaya belajar).
- Tidak adil jika semua siswa diberi cara belajar yang sama.
- DBL menyesuaikan pembelajaran berdasarkan kesiapan, minat, dan profil belajar siswa.
- Tujuan utamanya: agar semua siswa mampu memahami materi sesuai caranya sendiri dan tidak merasa gagal.
C. Ciri-ciri Pembelajaran Berdiferensiasi
Menurut ASCD (2011), pembelajaran berdiferensiasi memiliki ciri:
- Proaktif — Guru merencanakan dari awal, bukan menunggu siswa gagal dulu.
- Lebih fokus pada kualitas daripada kuantitas tugas.
- Berbasis asesmen.
- Memberikan banyak pilihan pendekatan konten, proses, produk, dan lingkungan.
- Berorientasi pada kebutuhan siswa.
- Kombinasi antara kerja individu dan kelompok.
- Bersifat dinamis — guru dan siswa terus menyesuaikan diri.
D. Empat Aspek yang Dapat Dibedakan dalam DBL
Ada 4 aspek yang bisa diubah oleh guru agar sesuai kebutuhan siswa:
- Konten (Apa yang dipelajari)
Misalnya: variasi bahan bacaan, video, tingkat kesulitan berbeda, dll. - Proses (Bagaimana cara belajar)
Kegiatan belajar berbeda sesuai gaya belajar, kemampuan, atau minat. - Produk (Hasil belajar)
Siswa boleh menunjukkan pemahaman melalui berbagai bentuk, misalnya poster, presentasi, ceramah, model, video, dll. - Lingkungan belajar
Pengaturan tempat duduk, kelompok belajar, suasana kelas, metode kerja individual/kelompok.
E. Penelitian Relevan dalam PAI
- DBL sangat cocok untuk PAI karena siswa PAI sangat beragam.
- DBL membantu meningkatkan motivasi, interaksi guru–siswa, serta efektivitas pembelajaran.
- Diferensiasi dapat dilakukan dalam konten, proses, produk, dan lingkungan sesuai kebutuhan siswa.
F. Praktik Baik DBL dalam PAI
Contoh implementasi nyata dalam PAI:
- Mengelompokkan siswa berdasarkan gaya belajar (visual, auditori, kinestetik).
- Memberi pilihan produk akhir seperti poster ibadah, ceramah singkat, video, dll.
- Menggunakan variasi materi (video, komik, bacaan, audio).
G. Sintaks (Langkah-langkah) Pembelajaran DBL
Assessment Diagnostik (Tahap Awal) dilakukan dengan cara, guru menilai:
- pengetahuan awal,
- minat,
- gaya belajar,
- kesiapan dan kondisi psikologis siswa.
Analisis Hasil Asesmen dilakukan untuk menentukan pembelajaran berdiferensiasi yang akan dipakai, apakah:
- pada konten,
- proses,
- atau produk.
Pada tahap pelaksanaan di lapangan, guru dapat:
- menyesuaikan strategi belajar,
- membagi kelompok sesuai kebutuhan,
- membuat aktivitas yang menarik dan bermakna.
Tujuannya: pembelajaran sesuai kemampuan, minat, dan gaya belajar.
Selanjutnya, evaluasi dan presentasi dilakukan sebagai berikut:
- Siswa mempresentasikan hasil kerja mereka.
- Guru memberi penilaian dan umpan balik.
- Guru dan siswa melakukan refleksi.
Apakah kelebihan DBL dalam pelajaran PAI?
- Mengakomodasi keragaman siswa.
- Menumbuhkan motivasi dan rasa percaya diri.
- Membuat pembelajaran lebih bermakna.
- Hasil belajar meningkat karena setiap siswa belajar dengan cara yang sesuai bagi dirinya.
Sekarang, marilah kita lihat bagaimana contoh penerapan DBL dalam pelajaran PAI.
1. Diferensiasi Konten (Apa yang dipelajari)
Guru menyesuaikan bahan ajar sesuai kemampuan, minat, atau gaya belajar siswa.
✔ Contoh dalam PAI:
2. Diferensiasi Proses (Cara belajar)
Guru menyediakan aktivitas belajar yang berbeda sesuai kebutuhan siswa.
✔ Contoh dalam PAI:
- Siswa kinestetik praktik langsung,
- sementara siswa visual membuat mind map gerakan shalat dan
- siswa auditori mendengarkan penjelasan langkah-langkah.
Materi Akhlak:
Kelompok “analitis” mendiskusikan studi kasus; kelompok “kreatif” membuat drama akhlak mulia.
Materi Zakat:
Kelompok cepat diberi soal hitungan zakat lebih kompleks,
sedangkan kelompok lainnya mendapat panduan langkah demi langkah.
Qur’an Hadis:
Siswa memilih belajar dalam kelompok kecil, belajar mandiri, atau pendampingan intensif bersama guru.
3. Diferensiasi Produk (Hasil belajar)
Siswa menunjukkan pemahaman melalui berbagai pilihan produk.
✔ Contoh dalam PAI:
4. Diferensiasi Lingkungan Belajar
Guru menyesuaikan pengaturan kelas agar sesuai kebutuhan siswa.
✔ Contoh dalam PAI:
Kelompok fleksibel untuk materi Fikih (wudhu, shalat, zakat):
- Kelompok diskusi
- Kelompok praktik
- Kelompok bimbingan khusus
-
Zona belajar:
Sudut membaca Qur’an, sudut menonton video, sudut diskusi, sudut praktik ibadah.
Waktu yang fleksibel:
Siswa yang membutuhkan waktu tambahan diberi kesempatan menyelesaikan tugas setelah pelajaran.
Aturan kelas akhlak:
Lingkungan ditata ramah, hangat, berdasarkan adab-adab Islami (salam, senyum, giliran bicara).
5. Contoh DBL Lengkap per Materi PAI
a. Akidah
- Konten: pilihan bahan (video, teks, infografis tentang Asmaul Husna).
- Proses: kelompok diskusi makna, atau latihan kartu.
- Produk: poster/mind map “Asmaul Husna dalam hidupku”.
b. Qur’an Hadis
c. Fikih
d. SKI
e. Akhlak