Asal-Usul Alam Semesta

Asal-Usul Alam Semesta

Asal Usul Alam Semesta

Ketika para pemuda Reykjavic (ibu kota Islandia) disurvei pada 2016 lalu, ditemukan hal mengejutkan: setengah dari pemuda-pemuda tersebut percaya bahwa dunia ini diciptakan oleh big bang, bukan oleh Tuhan…

By MISTERARIE

Hadits dan Qadim

Sains modern tidak mempunyai gambaran yang pasti mengenai keadaan sebelum terciptanya jagat raya. Filsafat pun demikian. Immanuel Kant menyerah. Di dalam Critique of Pure Reason yang terbit pada 1781, filsuf Jerman ini mengatakan bahwa pandangan “jagat raya yang pernah bermula” dan “jagat raya yang tidak berawal dan tidak berakhir” memiliki argumen yang sama kuatnya. “… jika jagat raya tidak mempunyai awal, akan ada kurun waktu yang tak terhingga panjangnya sebelum peristiwa apa saja … Jika jagat raya mempunyai awal maka ada kurun waktu yang tak terhingga panjangnya sebelum awal itu, maka mengapa jagat raya harus mulai pada suatu waktu tertentu …” [1]

Topik “kekekalan alam atau penciptaan alam” sebetulnya telah diperbincangkan oleh para filsuf muslim sembilan ratus tahun sebelum Kant. Dalam disiplin ilmu sejarah kebudayaan Islam, kekekalan alam disebut “qodim” (secara literal artinya “lama”) dan penciptaan alam disebut “hadits” (secara literal artinya “baru”). “Misalkan sebuah pohon yang telah hidup berjuta-juta tahun”, kata Murtadha Muthahari. “Dalam pengertian yang lazim, dikatakan pohon itu sudah berusia lama, bahkan sangat lama, tetapi menurut terminologi filsafat dan kalam[2], pohon tersebut tergolong sebagai sesuatu yang hadits (baru) karena pada suatu masa jutaan tahun yang lalu ia pernah tidak ada.”[3]

“Dalam pengertian yang lazim, dikatakan pohon itu sudah berusia lama, bahkan sangat lama, tetapi menurut terminologi filsafat dan kalam, pohon tersebut tergolong sebagai sesuatu yang hadits (baru) karena pada suatu masa jutaan tahun yang lalu ia pernah tidak ada.”

(Muthahari)

Para Filsuf dan Teosof yang Pro-Keabadian Alam

Ibnu Sina adalah di antara para filsuf yang meyakini bahwa alam ini mestinya abadi, qadim, bersama dengan abadinya Allah. Menurut mereka, mustahil yang Hadits muncul dari yang Qodim. Ini agak rumit, tapi bayangkanlah begini. Sebelum adanya segala sesuatu hanya ada Allah, zat yang Qodim, kekal abadi. Kemudian, Allah berkehendak. Muncul kehendak, irodah, di sini. Artinya, kehendak Allah ini sebelumnya tidak ada, lalu tiba-tiba menjadi ada. Berarti Kehendak Allah ini mempunyai permulaan. Tetapi masalahnya, tidak ada yang “mempunyai permulaan” kecuali dia itu hadits, baru, diciptakan. Apakah mungkin Allah yang kekal abadi berubah menjadi makhluq—ciptaan—yang hadits karena memulai suatu kehendak?[4] Oleh karena itu, para filsuf menyimpulkan bahwa Allah, kehendak-Nya, dan alam semesta ini, mungkin telah ada secara bersama-sama dan akan senantiasa abadi.

Pandangan yang terdengar menghujat ini—karena memproklamasikan adanya sesuatu lain yang kekal selain Allah—mendapat kritik tajam dari seorang ulama, Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali. Melalui bukunya, Tahafut al-Falasifah, yang berarti “Kerancuan Filsafat”, Al-Ghazali menyatakan bahwa apabila semua sebab dan syarat telah berkumpul: Allah yang mempunyai kehendak sudah Ada; kehendak-Nya juga sudah Ada; maka justru mustahil alam ini tidak dapat diciptakan.[5] Dalam buku tersebut, Al-Ghazali tidak menggunakan dalil Al-Qur’an atau Hadits untuk membantah gagasan-gagasan para filsuf tetapi menggunakan logika dan akal. Tidak seperti Gereja abad pertengahan yang membakar buku-buku yang dianggap bid’ah atau menangkap penulis-penulis yang tidak sefaham dengan Bible, Al-Ghazali menghadapi gagasan dengan gagasan. Menangkis filsafat dengan filsafat, inilah gayanya Al-Ghazali.

Pada umumnya, di dunia Islam saat ini, gagasan mengenai kekekalan alam merupakan minoritas. Gagasan ini hanya didiskusikan oleh golongan muslim liberal—yang sedang menghidupkan-kembali (revive) tradisi filsafat Islam—dan oleh golongan muslim Syi’ah—yang memang sejak dahulu menjadikan filsafat dan tasawuf atau ‘irfan sebagai bidang studi utama. Kedua golongan ini hanya merupakan sepuluh setengah persen dari populasi muslim dunia.[6] Berpijak kepada ajaran Shihabuddin Shuhrawardi yang dituangkan dalam Hikmah Al-Isyraq, golongan Syi’ah meyakini logika kebersamaan Allah dan alam semesta ibarat matahari dan pancaran sinarnya, keduanya tidak terpisahkan. Allah diibaratkan matahari dan alam semesta memancar, beremanasi dari Allah.[7]

Namun demikian, pada umumnya, khususnya golongan Sunni—yang membentuk sembilan puluh persen atau mayoritas dunia Islam[8]—meyakini alam ini hadits. Kaum tradisionalis ini meyakini bahwa alam ini pernah bermula, pernah diciptakan pada suatu titik waktu dan pada suatu saat nanti akan berakhir.

Zahir Ayat Al-Qur’an Mendukung Teori Penciptaan Alam Semesta

Pada suatu ayat Al-Qur’an disebutkan bahwa Allah menciptakan langit bertingkat-tingkat[9] dan pada ayat lainnya diterangkan penciptaan tersebut terjadi dalam enam periode[10].

Akan tetapi, yang cukup menarik adalah adanya ayat Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa Allah bukan hanya menciptakan langit dan bumi, tetapi menciptakan “sesuatu” di antara keduanya[11], seolah-olah ayat tersebut sedang menyinggung dark matter—materi tak bercahaya yang mengisi sembilan puluh persen massa alam semesta dan menjadi penghubung antar-bintang dan antar-galaksi seperti jaring laba-laba[12]—yang sejak empat puluh satu tahun yang lalu telah menjadi topik pembicaraan hangat dalam disiplin astronomi dan astrofisika.

Betapa banyak ayat Al-Qur’an yang menyebutkan penciptaan langit dan bumi sehingga kita dapat menyimpulkan dengan jelas bahwa alam semesta ini pernah Allah ciptakan. Namun, cobalah perhatikan ayat berikut ini yang tampaknya berbicara lebih jelas tentang keawalan dan kesendirian Allah pada zaman azali:

هُوَ الْاَوَّلُ وَالْاٰخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al-Hadid: 3)

Senada dengan maksud ayat di atas, ada pula sebuah riwayat dari Abu Hurairah yang menarik untuk kita dengarkan. Kata sahabat nabi yang mencintai kucing itu Nabi Muhammad pernah bersabda:

Sesungguhnya setelah aku tiada nanti kalian akan ditanyakan tentang segala sesuatu, bahkan nanti akan ada yang menanyakan: Kami mengakui Allah yang menciptakan segala sesuatu tetapi siapakah yang menciptakan-Nya?” Lalu, Abu Hurairah mengatakan, “Apabila ada orang yang bertanya kepadamu tentang hal itu maka katakanlah: Allah Pencipta segala sesuatu. Allah sudah Ada sebelum adanya segala sesuatu. Dan Allah akan tetap ada setelah tidak adanya segala sesuatu.”[13]

Bangunan Pertama di Alam Semesta: ‘Arsy

Berdasarkan dalil-dalil di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa pada mulanya hanya ada Allah, tidak ada apapun lagi. Hanya ada kehampaan yang dilukiskan oleh sebuah hadits, مَا فَوْقَهُ هَوَاءُ وَ مَا تَحْتَهُ هَوَاءُ, baik di atas (above)nya maupun di bawahnya, hampa udara.[14] Tetapi, kemudian, Allah ingin menciptakan kerajaan akbar di mana Allah sendiri akan menjadi Rajanya dan akan ada ciptaan-ciptaan—yang dalam bahasa Arab disebut makhluq—yang harus tunduk bersujud menyembahnya.

Maka, untuk itu, pertama-tama, Allah pun membangun sebuah pusat pemerintahan, sebuah bangunan yang sangat besar dan agung yang ukurannya jauh lebih besar daripada langit yang saat ini kita kenal.

Arsy, pusat pemerintahan alam semesta ini, tercipta dari cahaya, memiliki sebuah kubah di atasnya dan di bawah serta di sekelilingnya mengalirlah empat sungai cahaya yang amat berkilauan, yang satu bak api menyala merah merona dan yang lainnya bak salju nan putih menyejukkan.

Asisten Allah di Alam Semesta: Para Malaikat

Pada saat Arsy dibangun, kemungkinan besar, Allah pun menciptakan malaikat, sebab nantinya para malaikat itu yang akan bekerja mengurus ‘Arsy: sebagian dari mereka akan  memikul tiang-tiangnya yang besar dan sebagian yang lain akan memuji-muji Allah di sekelilingnya[15].

Para malaikat adalah makhluk yang tercipta dari cahaya[16] dan karena itu, mereka pun bergerak dengan kecepatan cahaya sehingga tak aneh jika Al-Qur’an menyebutkan bahwa sehari di alam gaib itu dapat setara dengan seribu atau lima puluh ribu tahun bagi manusia—yang bergerak, relatif, sangat lambat.

Para malaikat itu, yang juga merupakan serdadu-serdadu langit,[17] terbang dengan dua, tiga, dan empat sayap, bahkan ada pula yang terbang dengan lebih banyak sayap[18], semisal Jibril, panglima tertinggi para malaikat, Allah memberikan untuknya enam ratus sayap.[19]

Para malaikat tidak makan dan tidak pula minum[20]. Mereka semua diprogram untuk menjadi asisten Allah, mereka hanya menjalankan perintah Allah. Seperti disebutkan di muka, sebagian dari mereka akan memikul ‘Arsy dan kelak nanti, mereka akan akan menjadi aktor-aktor di balik keteraturan alam semesta, mereka akan menjadi “mesin gaib” yang saat ini kita kita sebut “gaya gravitasi”, “gaya elektromagnetik”, “gaya nuklir lemah” dan “gaya nuklir kuat” atau mungkin, menjadi the theory of everything yang sedang dicari-cari oleh para astrofisikawan.

Selain bertanggung-jawab atas keteraturan ini, mereka pun bertanggung-jawab untuk membantu Allah mempersiapkan dan melaksanakan sebuah rencana yang sebentar lagi akan Allah titahkan.

Al-Qolam dan Cetak Biru Rencana Allah

Sekarang Arsy sudah dibangun, para malaikat pun telah siap untuk melaksanakan tugas-tugasnya. Semua pra-sarana untuk memulai sebuah kerajaan akbar dan sebuah pemerintahan agung telah selesai disiapkan. Maka sekarang, Allah akan memulai proyek pembangunan alam semesta yang lokasinya akan berada di bawah ‘Arsy.

Sebelum memulai pembangunan itu, sebuah cetak biru harus dibuat. Maka, Lima puluh ribu tahun sebelum pembangunan, terlebih dahulu Allah menciptakan Al-Qolam, pena[21].

Janganlah kita bayangkan pena ini seperti batang berujung runcing, berisi tinta, yang biasanya kita pergunakan untuk menulis di atas kertas. Al-Qolam adalah teknologi yang belum terjangkau oleh nalar dan sains modern kita, teknologi maha-canggih yang akan Allah gunakan untuk menulis taqdir alam semesta. 

Sebagian dari kita mungkin akan bersikap skeptis dan bertanya-tanya: bagaimana bisa sebuah pena menuliskan taqdir yang nantinya akan menjadi kenyataan? Pena macam apa? Apakah seperti kapur Rudy Tabootie dalam film kartun Amerika, Chalk Zone, yang menggambar di udara lalu gambar itu mewujud menjadi nyata? Apakah hal seperti ini masuk akal?

Bagi orang-orang yang beriman kepada Al-Qur’an, pertanyaan ini tidak relevan. Karena mereka percaya bahwa Allah berkuasa, Qadir, untuk melakukan segala sesuatu. Akan tetapi, bukan berarti kita tidak boleh membicarakannya dengan bahasa logika. Selain bahasa logika dapat memperkuat dalil-dalil akidah dalam berkomunikasi dengan orang-orang non-muslim, seperti yang kerap dilakukan oleh Dr. Zakir Naik, bahasa logika juga dapat memberikan ketenangan hati bagi orang-orang beriman.

Namun, terus terang, kita harus mengatakan bahwa Pena Allah, Al-Qolam, menuliskan taqdir dengan suatu “algoritma” yang sampai kini masih belum dapat dipahami oleh sains modern.

Kita, sains modern kita, mungkin merasa telah menjawab segala pertanyaan dengan kemajuan sains, tapi sebenarnya tidak. Banyak hal yang masih menjadi misteri termasuk soal taqdir.

Akan tetapi, cobalah kita perhatikan “pena” yang digunakan oleh para programmer di bidang IT! Mereka menuliskan algoritma lalu sebuah robot dapat berjalan melakukan tugasnya. Mereka menuliskan algoritma pada sebuah smartphone yang memungkinkan seorang anak di Jakarta dapat mengirimkan fotonya kepada temannya di Mesir, melintasi jarak 9000Km dan foto tersebut langsung diterima oleh temannya pada waktu yang sama.

Boleh jadi, seribu tahun yang lalu, pembicaraan tentang manusia yang terbang di angkasa akan dianggap sebagai omong kosong, tetapi lihatlah apa yang sudah dapat kita lakukan sekarang dengan pesawat terbang?

Banyak hal yang sampai kini belum kita pahami, termasuk tentang Al-Qolam, tapi mungkin pemahaman kita tentang topik ini akan berkembang lebih baik setelah seratus tahun yang akan datang.

Akan tetapi, tanpa menunggu seratus tahun ke depan, melalui petunjuk Nabi Muhammad, kita sekarang sudah mengetahui satu hal bahwa Al-Qolam menuliskan algoritma alam semesta: the theory of everything, mulai dari force, gaya, yang menyimpan energi dahsyat pra-big bang sampai terbentuknya bumi, pohon, binatang, dan segala isinya, termasuk taqdir manusia. Singkat kata, Al-Qolam akan melukiskan apapun dari tingkat makrokosmos sampai tingkat mikrokosmos, dari urusan gerak bintang dan galaksi sampai perkara gerak sel yang ajaib, atom, quark, bahkan yang lebih kecil dari itu.

Menurut hadits, terjadilah dialog antara Allah dan Al-Qolam. Kata Allah: أُكْتُبْ, “Tulislah!” Lalu Al-Qolam bertanya, يَا رَبِّ وَ مَا أَكْتُبُ؟ “Wahai, Tuhanku, apa yang akan kutulis?”. Allah pun berkata, اُكْتُبِ الْقَدْرَ وَ مَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى الْأَبَدِ, “Tulislah takdir dan semua yang terjadi sampai waktu yang panjang (yakni sampai hari kiamat).[22]

Setelah Al-Qolam menulis semuanya, disimpanlah catatan taqdir itu di langit, di pusat arsip yang disebut Lauh al-Mahfuzh.

Penciptaan Ka’bah Langit

Sekarang semuanya sudah benar-benar siap. ‘Arsy, pusat pemerintahan Allah yang begitu agung sudah tegak berdiri, para malaikat sebagian telah stand by di posnya masing-masing dan sebagian yang lain juga telah siap melaksanakan tugas-tugas penciptaan dan pemeliharaan.

Sementara itu, Bait al-Makmur yang merupakan Ka’bah langit juga sudah dibangun. Malaikat, para penduduk langit itu, setiap hari beribadah di sana.

Kelak nanti, ketika alam semesta sudah tercipta dan bumi yang direncanakan sudah terbentuk, akan dibangun persis di bawah—dan sejajar dengan—Bait al-Makmur sebuah rumah ibadah. Ka’bah, rumah ibadah di bumi itu akan menjadi Bait al-Makmur di muka bumi. Jika di langit para malaikat yang berthawaf di Bait al-Makmur, maka di bumi, makhluk lainlah yang akan melakukannya.

Maka, dimulailah penciptaan. Allah bertitah dari ‘Arsynya: kun. “Jadilah!”

Catatan

  1. Stephen Hawking, Riwayat Sang Kala: Dari Dentuman Besar hingga Lubang Hitam (Jakarta: Pustaka Utama, 1995) hal. 9
  2. Kalam atau Ilmu Kalam adalah salah satu disiplin ilmu Islam yang mendiskusikan tentang ketuhanan.
  3. Murtadha Muthahari, Tema-Tema Penting Filsafat Islam (Bandung: Yayasan Muthahari, 1993) hal. 67
  4. Al-Ghazali, Tahafut Al-Falasifah Kerancuan Para Filosuf (Jakarta: Panjimas, 1986) hal. 17
  5. A. Hanafi, Antara Imam Al-Ghazali dengan Imam Ibnu Rusyd dalam Tiga Persoalan Metafisika (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1981) hal. 21
  6. 500 Tokoh Muslim: 500 Tokoh Muslim Dunia Paling Berpengaruh Saat ini (Jakarta: Ufuk Publishing House, 2001) hal. 38
  7. Muthahari, Tema-Tema Penting Filsafat Islam … hal. 71
  8. 500 Tokoh Muslim… hal. 38
  9. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? (QS. Nuh: 15)
  10. Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy … (QS. Al-A’rof: 54)
  11. Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan (QS. Al-Ahqof: 3)
  12. Moedji Raharto, “Rasionalitas dan Wahyu dalam Pemerintahan Tuhan”, Kata Pengantar dalam buku Arifin Muftie, Pemerintahan Tuhan: Perjalanan Sains Menjelajah Al-Qur’an (Bandung: Kiblat, 2005) hal. 12
  13. H.R. Bukhari dan Muslim, Lihat Ibnu Jarir Ath-Thabari, Shahih Tarikh Ath-Thabari (Jakarta: Pustaka Azam, 2011) hal. 241 dan 242.
  14. HR. Tirmidzi dari Abu Razin Al-Uqaili (Dihasankan oleh Tirmidzi)
  15. (Para malaikat) yang memikul ‘Arsy dan yang berada di sekitarnya, mereka bertasbih memuji Tuhan mereka … QS. Mukmin/Ghafir: 7
  16. Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api, dan Adam diciptakan dari sesuatu asal-mula kalian diciptakan (HR. Muslim)
  17. QS. Al-Muddatsir: 31
  18. QS. Fathir: 1
  19. Rasulullah pernah melihat Jibril dalam wujud aslinya. Jibril memiliki 600 sayap. Setiap sayapnya dapat menutupi tepi langit. Dari sayap itu, intan berlian yang beraneka warna berjatuhan (HR. Ahmad)
  20. QS. Adz-Dzariat 24-28
  21. Sebetulnya ada pendapat yang memilih ‘Arsy sebagai makhluk yang pertama kali Allah ciptakan dan ada pula yang berpendapat Al-Qolam adalah yang pertama. Penulis berpendapat ‘Arsy merupakan makhluk yang pertama kali diciptakan berdasarkan sebuah hadits Shahih  yang mengatakan, “Allah sudah ada sebelum adanya segala sesuatu (ini bukti bahwa alam semesta ini pernah diciptakan). ‘Arsynya terletak di atas air (ini bukti bahwa ‘Arsy diciptakan pertama kali). Semua takdir telah dituliskan sebelum semuanya diciptakan (ini dapat dipahami bahwa setelah ‘Arsy Allah menciptakan Al-Qolam untuk menuliskan takdir seluruh makhluk). Kemudian diciptakanlah tujuh lapis langit”. Lihat Ath-Thabari, Shahih Tarikh Ath-Thabari, hal. 248
  22. Tirmidzi, Lihat Shahih Tafsir Ibnu Katsir (Bogor: Pustaka Ibnu Katsir, 2006) hal. 221
Kisah Nabi Ya’qub

Kisah Nabi Ya’qub

Kisah Nabi Ya'qub

Kelahiran Nabi Ya'qub

Dalam lagu “25 Nabi dan Rasul” biasanya Nabi Ya’qub diletakkan di urutan ke-10 dari dua puluh lima Nabi dan Rasulullah. Peran Nabi Ya’qub dalam sejarah sangat penting, terutama sebagai pembangun Bait Suci yang kini kita kenal sebagai Baitul Maqdis. 

Nabi Ya’qub lahir di Hebron, putra dari Nabi Ishaq. Ibunya, Rifqa binti Betauil adalah wanita yang sudah lama belum dikaruniai anak. Akan tetapi, dengan doa yang dipanjatkan terus-menerus dan dengan keyakinan yang penuh pada Allah, akhirnya lahirlah Nabi Ya’qub. Kala itu, Nabi Yaqub lahir bersama saudara kembarnya yang diberinama ‘Ishu (atau Esau).

Nabi Ya’qub lahir ketika kakeknya, Nabi Ibrahim, dan neneknya, Sarah, masih hidup. Dahulu kala, Sarah juga mengalami kesulitan yang sama dengan istri putranya (menantunya), Rifqa; sarah sudah berusia lanjut tetapi belum juga dikaruniai keturunan. Nabi Ibrahim pun terus berdoa sampai akhirnya malaikat Jibril mengunjunginya dan berkata bahwa ia dan sarah akan dikaruniai keturunan yang bernama “Ishaq” dan dari Ishaq nanti mereka akan dikaruniai seorang cucu bernama “Ya’qub”.

Konflik Nabi Ya'qub dengan Saudara Kembarnya

Sebagaimana diceritakan Al-Qur’an, ketika Ya’qub telah dewasa, ia meninggalkan Hebron menuju negeri Fadan Aram yang berada jauh di utara.

Menurut riwayat ahli kitab, yang juga dikutip oleh Ibnu Katsir dalam Qashash al-Anbiya’, kepergian Nabi Ya’qub ke Fadan Aram adalah akibat konfliknya dengan saudara kembarnya, ‘Ishu, konflik dua orang anak yang ingin mendapatkan berkat/doa dari ayahnya, Ishaq.

Sebagai muslim, yang meyakini bahwa para Nabi Allah terlindung dari sifat-sifat tercela, kita merasakan ada sedikit keganjilan dari cerita ahli kitab mengenai konflik tersebut. Menurut mereka, Nabi Ishaq memerintahkan kepada ‘Ishu untuk mencari rusa, tetapi Rifqa, ibunya Ya’qub, segera memerintahkan Ya’qub untuk melakukan hal yang sama dan mendahului ‘Ishu. Nabi Ya’qub mempersembahkan daging rusa kepada ayahnya sebelum ‘Ishu tiba dan berpura-pura seolah dirinya adalah ‘Ishu. Tanpa curiga, Nabi Ishaq pun memberikan berkat/doanya kepada Ya’qub. Peristiwa inilah yang, menurut ahli kitab, menjadi penyebab konflik antara ‘Ishu dan Ya’qub dan menjadi faktor utama kepergian Ya’qub menuju Fadan Aram.

Apakah seorang hamba Allah yang akan diangkat menjadi nabi akan melakukan kebohongan seperti itu? Kita tidak meyakininya. Tetapi apakah mungkin Ya’qub dan saudaranya benar-benar bertengkar? Bisa jadi. Mengenai apakah penyebabnya, belum banyak sumber yang dapat memuaskan kita.

Nabi Ya'qub di Fadan Aram

Nabi Ya’qub pun pergi ke Fadan Aram, sebuah negeri tua yang letaknya berada jauh di sebelah utara dari Hebron. 

Menurut cerita Ibnu Katsir, dalam perjalanan menuju rumah pamannya tersebut, Nabi Ya’qub sampai di sebuah tempat. Di tempat itulah Nabi Ya’qub mendapatkan wahyu dan diangkat menjadi seorang Nabi. Tempat itu, menurut wahyu, akan menjadi Rumah Suci, maka, kala itu, Nabi Ya’qub pun menandainya dengan meletakkan sebuah batu besar. Lalu, ia pun melanjutkan perjalanan ke utara. 

Setelah melewati hari-hari yang melelahkan dan melintasi gurun pasir yang panas, akhirnya, tibalah Nabi Ya’qub di sebuah kota. Ia menanyakan kepada orang-orang di mana rumah Laban, saudara ibunya, Laban bin Bitau’il. 

Setelah bolak-balik ke sana dan kemari mencari informasi, akhirnya seseorang menunjukkan tangannya ke arah seorang gadis cantik. “Dialah putri Laban”, katanya. Akhirnya, setelah menemui gadis itu, Nabi Ya’qub pun diantar menemui pamannya. 

Hari-hari berlalu, musim pun berganti. Nabi Ya’qub telah menjadi penduduk di Fadan Aram. Ia pun memohon kepada pamannya untuk menikahkan dirinya dengan salah seorang dari putrinya. Pamannya menyetujui lamaran itu dengan syarat Nabi Ya’qub mau menggembalakan kambing-kambingnya selama tujuh tahun.

Setelah tujuh tahun berlalu, Laban pun menikahkan Ya’qub dengan putri sulungnya, Lea/Lia. Tetapi agaknya, Nabi Ya’qub menginginkan adiknya Lea yang bernama Rahel, gadis yang dahulu pertama kali ia temui di kota dan membawanya menemui Laban. 

Pada masa itu, belum ada larangan seseorang menikahi kakak dan adik sekaligus. Larangan itu baru Allah turunkan kepada Nabi Muhammad melalui surat An-Nisa ayat 23.

Akhirnya, Nabi Ya’qub pun diminta oleh pamannya untuk bekerja tujuh tahun lagi untuk dapat menikahi Rahel. Dan, setelah tujuh tahun berlalu, Ya’qub pun menikah dengan Rahel. 

Anak-Anak Nabi Ya'qub

Kini Ya’qub telah membangun sebuah keluarga. Selain dinikahkan dengan kedua putrinya, Laban juga memberikan dua orang hamba sahaya untuk melayani Lea dan Rahel dan dari mereka, Nabi Ya’qub memperoleh banyak keturunan.

Bersambung...

Download PPT Kisah Nabi Ya'qub
Mahfuzot – Mengambil Pelajaran dari Kalimat-Kalimat Sarat Hikmah

Mahfuzot – Mengambil Pelajaran dari Kalimat-Kalimat Sarat Hikmah

Mahfuzot
Mengambil Pelajaran dari Kalimat Sarat Hikmah

TANAMLAH BUDI PEKERTI

 

الْعَفْوُ صَدَقَةٌ

Memaafkan itu sedekah (Nabi Muhammad saw)

الصُّــمْتُ حِكْــمَةٌ

Diam itu emas (Nabi Muhammad saw)

الْعَمَلُ جِسْمٌ وَ رُوْحُهُ الإِخْلاَصُ

Pekerjaan adalah badan, ruhnya adalah ikhlas

لَيْسَ اليَتِيْمُ مَنْ مَاتَ وَالِدُهُ وَلكِنَّ اليَتِيْمَ يَتِيْمُ العِلْمِ وَ الأَدَبِ

Anak yatim itu bukan yang orang tuanya sudah meninggal, anak yatim itu, orang yang tak berilmu dan tak beradab

إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

Kalau engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu   (Nabi Muhammad saw)

تَأَمُّلُ العَيْبِ عَيْبٌ

Menghayal kejelekan itu adalah sebuah kejelekan

الْحَسَدُ يَأْكُلُ الحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

Dengki itu memakan kebaikan seperti api memakan kayu bakar (Nabi Muhammad saw)

لَيْسَ العَيْبُ لِمَنْ كَانَ فَقِيْرًا بَلِ العَيْبُ لِمَنْ كَانَ بَخِيْلاً

Aib itu bukan bagi orang yang fakir, Aib itu bagi orang yang pelit

 

INI KUNCI KEBAHAGIAAN

 

وَمَاالّذَّةُ إِلاَّ بَعْدَ التَّعْبِ

Tidak ada kenikmatan kecuali sesudah bekerja keras

لَوْ لاَ الْعِلْمَ لَكَانَ النَّاسُ كَالْبَهَائِمِ

Kalau tidak ada ilmu, makan manusia seperti binatang

اَلشَّرَفُ بِالأَدَبِ لاَ بِالنَّسَبِ

Kemuliaan itu karena budi pekerti, bukan karena keturunan

مَنْ حَسُنَ ظَنُّهُ طَابَ عَيْشُهُ

Siapa yang baik prasangkanya, maka bahagia hidupnya

خَيْرُ جَلِيْسٍ فِى الزَّمَانِ كِتَابٌ

Sebaik-baik teman di setiap waktu adalah buku

سَلْ عَنِ الرَّفِيْقِ قَبْلَ الطَّرِيْقِ وَعَنِ الجَارِ قَبْلَ الدَّارِ

Cari teman sebelum akan jalan, cari tetangga sebelum cari rumah

رُبَّ شَهْوَةٍ سَاعَةً أَوْرَثَتْ حُزْنًا طَوْيْلاً

Tak jarang, kesenangan sesaat menimbulkan kesedihan berkepanjangan

زُرْ غِبّــًا تَزْدَدْ حُبّــًا

Berkunjunglah kadang-kadang saja, maka kecintaan mu akan bertambah

اَلْعَبْدُ يُضْرَبُ بِالْعَصَى وَ الْحُرُّ تَكْفِيْهِ الإِشَارَةُ

Seorang budak harus bekerja setelah dipukul, tetapi orang merdeka cukuplah dengan isyarat

مَنْ عَرَفَ بُعْدَ سَفَرٍ اِسْتَعَدَّ

Siapa yang mengetahui jauhnya perjalanan, maka ia akan bersiap-siap

لاَ تَكُنْ رَطْبًا فَتُعْصَرَ وَلاَ يَابِسًا فَتُكَسَّرَ

Jangan bersikap lunak, kau bisa diperas; jangan juga terlalu keras, nanti kau dipatahkan

إِذَا كُنْتَ ذَا عَقْلٍ وَ لَمْ تَكُ ذَا غِنًى

فَأَنْتَ كَذِى رِجْلٍ وَ لَيْسَ لَهُ نَعْلٌ

وَإِنْ كُنْتَ ذَا مَالٍ وَ لَمْ تَكُ عَاقِلاً

فَأَنْتَ كَذِى نَعْلٍ وَ لَيْسَ لَهُ رِجْلٌ

Kalau engkau pandai tapi tak berharta,

engkau itu seperti punya kaki, tapi tak punya sendal

kalau engkau berharta padahal tak pandai,

engkau itu ibarat punya sandal tapi tak punya kaki

الْعَاقِلُ يَأكُلُ لِيَعِيْشَ وَ الجَاهِلُ يَعِيْشُ لِيَأْكُلَ

Orang pandai makan untuk hidup, orang bodoh itu hidup untuk makan

الْحَذَرُ أَشَدُّ مِنَ الْوَقِيْعَةِ

Takut itu lebih mengerikan daripada kejadian sebenarnya

اَلْوِقَايَةُ خَيْرٌ مِنَ العِلاَجِ

Menjaga itu lebih baik daripada mengobati

خَيْرُ المَالِ مَا نَفَعَكَ

Sebaik-baik harta itu yang bermanfaat

الْعَاقِلُ يَأكُلُ لِيَعِيْشَ وَ الجَاهِلُ يَعِيْشُ لِيَأْكُلَ

Orang pandai makan hanya untuk menyambung hidup, tidak seperti orang bodoh yang hidupnya hanya untuk makan

النَّظَــافَةُ مِنَ الإِيْــمَانِ

Kebersihan itu sebagian dari iman (Nabi Muhammad saw)

لاَ خَيْـرَ فِى لَذَّةٍ تَعْقِـبُ نَدَمًـا

Tak ada kebaikan dalam kenikmatan yang menyebabkan kamu menyesal

كُلُّ شَيْءٍ يَبْدُو صَغِيْرًا ثُمَّ يَكْبُرُ

إِلاَّ الْمُصِيْبَةَ فَإِنَّـهَا تَبْدُوْ كَبِيْرَةً ثُمَّ تَصْغُرُ

Segala sesuatu itu bermula dari kecil, kemudian membesar. Kecuali musibah. Dia mulai dari besar, lama-lama mengecil

فِى التَّـأَنِّى السَّلاَمَةُ وَ فِى العَجَلَةِ النَّدَامَةُ

Dalam kehati-hatian ada keselamatan, dan dalam ketergesaan ada penyesalan

أَوَّلُ الغَضَبِ جُنُوْنٌ وَ آخِرُهُ نَدَامٌ

Marah itu awalnya kegilaan, dan akhirnya penyesalan

دَاوِ الغَضَب بِالصُّمْتِ

Obatilah marah dengan diam

الشَّجَّاعُ يَمُوْتُ مَرَّةً وَ الجُبَّانُ يَمُوْتُ أَلْفَ مَرَّةٍ

Orang berani itu mati sekali, tapi orang pengecut itu mati ribuan kali

 

PENTING UNTUK PERSAHABATAN

رَأْسُ الذُّنُوْبِ الْكَذِبُ

Pangkal segala dosa adalah berucap bohong

أَصْلِحْ نَفْسَكَ يَصْلُحْ لَكَ النَّاسُ

Perbaikilah sikapmu, sikap orang akan baik kepadamu

لاَ تَحْتَقِرْ مِسْكِيْنًا وَ كُنْ لَهُ مُعِيْنًا

Janganlah menghina orang miskin, tetapi jadilah penolong baginya

قُلِ الحَقَّ وَلَوْ كَانَ مُرًّا

Katakanlah yang benar, walaupun pahit

كُلْ مَا تَشْتَهِى وَالْبَسْ مَا يَشْتَهِيْهِ النَّاسُ

Makanlah sesukamu, tetapi berpakaianlah menurut orang

لاَ تَحْتَقِرْ مَنْ دُوْنكَ فَلِكُلِّ شَيْءٍ مَزِيَّةٌ

Janganlah menghina orang lain, karena segala sesuatu pasti ada kelebihannya

جِــدَّ لاِمْــرِءٍ يَجِــدُّ لَكَ

Bersungguh-sungguhlah untuk orang lain, maka ia akan demikian juga terhadapmu

إِذَا تَمَّ الْعَقْلُ قَلَّ الكَلاَمُ

Jika sempurna akal seorang, maka sedikitlah bicaranya

مَنْ قَالَ لاَ يَنْبَغِى سَمِعَ مَالاَ يَشْتَهِى

Siapa yang bicara tidak pantas, dia akan mendengar yang tidak dia suka

رُبَّ سُكُوْتٍ أَبْلَغُ مِنْ كَلاَمٍ

Terkadang, Diam itu lebih jelas (menyampaikan) daripada bicara

خَيْــرُ الكَــلاَمِ مَا قَــلَّ وَ دَلَّ

Sebaik-baik perkataan itu yang sedikit, tetapi memberikan petunjuk

عَثْرَةُ الْقَدَمِ خَيْرٌ مِنْ عَثْرَةِ اللِّسَانِ

Tergelincirnya kaki itu lebih baik daripada tergelincirnya lidah

لِكُلِّ مَقَامٍ مَقَالٌ وَ لِكُلِّ مَقَالٍ مَقَامٌ

Di setiap tempat ada ucapan yang pantas

اَلْمَــرْءُ مِــرْأَةُ أَخِيْــهِ

Seseorang adalah cermin bagi saudaranya

قُلْ لِى مَنْ تُعَاشِرُ أَقُلْ لَكَ مَــنْ أَنْتَ

Katakan kepadaku dengan siapa kau berteman, kan kukatakan siapa kamu

صَدِيْقُكَ مَنْ أَبْكَاكَ لاَ مَنْ أَضْحَكَكَ

Temanmu adalah yang membuatmu menangis, bukan tertawa

جَالِسْ أَهْلَ الصِّدْقِ وَالْوَفَاءِ

Bergaullah dengan orang jujur dan menepati janji

مَنْ قَلَّ صِدْقُهُ قَلَّ صَدِيْقُهُ

Siapa yang sedikit kejujurannya, sedikit juga temannya

اَلْوَعْــدُ دَيــْنٌ

Janji itu hutang

خَيْرُ الأَصْحَابِ مَنْ يَدُلُّكَ عَلَى الخَيْرِ

Sebaik-baik teman adalah yang menunjukanmu kepada kebaikan

مَـوَدَّةُ الصَّـدِيْقِ تَظْهَـرُ وَقْتَ الضِّيْــقِ

Kecintaan seorang teman akan Nampak waktu kita susah

لاَ يُجْـمَعُ سَـيْفَانِ فِى غَمَدٍ

Tidak dapat berkumpul dua pedang dalam satu sarung

مَنْ طَلَبَ أَخًا بِلاَ عَيْبٍ بَقِيَ بِلاَ أَخٍ

Siapa yang mencari teman tanpa cacat, maka ia tidak akan tidak punya teman selamanya

حَافِظْ عَلَى الصَّدِيْقِ وَ لَوْ فِى الحَرِيْقِ

Lindungilah sahabatmu, walaupun dalam kebakaran

مَنْ كَثُرَ إحْسَانُهُ كَثُرَ إِخْــوَانُهُ

Siapa yang banyak kebaikannya, banyaklah kawannya

مَنْ حَفَرَ حُفْرَةً وَ قَعَ فِيْهَا

Siapa yang menggali lubang, maka ia akan terjerumus ke dalamnya

الْمِزَاحَةُ تُذْهِبُ الْمَهَابَةَ

Senda gurau itu menghilangkan kewibawaan

جَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا

Balasan kejahatan adalah kejahatan yang serupa

مَنْ ظَلَمَ ظُلِمَ

Siapa yang menganiaya ia akan teraniaya

مَثَلُ البَخِيْلِ كَمَثَلِ الخِـنْزِيْرِ لاَ يَنْتَفِعُ مِنْهُ إِلاَّ بَعْدَ مَوْتِهِ

Orang pelit itu ibarat babi, yang tidak ada manfaatnya kecuali setelah mati

أُنْظُرْ مَاقَالَ وَ لاَ تَنْظُرْ مَنْ قَالَ

Lihatlah apa yang seseorang katakan, dan jangan lihat siapa yang mengatakan

مَنْ يَصْنَعُ المَعْرُوْفَ بِغَيْرِ أَهْلِهِ كَوَاضِعِ الشَّمْعِ فِى بَيْتِ العُمْيَانِ

Siapa yang berbuat baik tidak pada tempatnya,

Ibarat orang yang menyalakan lilin di rumah orang buta

مَنْ جَعَلَ الغُرَابَ لَهُ دَلِيْلاً يَمُرُّ بِهِ عَلَى جَيْفِ الْكِلاَبِ

Siapa yang menjadikan burung gagak sebagai penunjuk jalan baginya

Maka ia akan dibawa ke tempat bangkai-bangkai anjing

تَرْكُ الجَوَابِ عَلَى الجَاهِلِ جَوَابٌ

Tidak menjawab terhadap orang bodoh itulah jawabannya

MENITI JALAN KEBERHASILAN

مَنْ جَدَّ وَجَدَ

Siapa yang bersunguh-sungguh, ia akan sukses

مَنْ صَبَرَ ظَفِرَ

Siapa yang bersabar, ia akan beruntung

مَنْ سَارَ عَلىَ الدَّرْبِ وَ صَلَ

Siapa yang berjalan pada jalannya, ia akan sampai (berhasil)

لَيْسَ الْجَمَالُ بِأَثْوَابٍ تُزَيِّنُنَا وَ لَكِنَّ الجَمَالَ جَمَالُ العِلْمِ وَ الأَدَبِ

Bukanlah keindahan itu dengan pakaian, tetapi dengan ilmu

فَكِّرْ قَبْلَ أَنْ تَعْزِمَ

Berfikirlah sebelum engkau mau melakukan sesuatu

مَالاَ يُدْرَكُ كُلُّهُ لاَ يُتْرَكُ كُلُّهُ

Apa yang tidak bisa dicapai seluruhnya, jangan ditinggalkan seluruhnya

لاَ تُؤَخِّرْ عَمَلَكَ إِلَى الغَدِّ مَا تَقْدِرُ أَنْ تَعْمَلَهُ اليَوْمَ

Jangan kau tunda pekerjaanmu sampai besok, apa yang bisa kau selesaikan pada hari ini

لاَ تُنَالُ الْعِزَّةُ إِلاَّ بِمُرُوْرِ البَلِيَّةِ

Kemuliaan tidak dapat diperoleh kecuali sesudah menghadapi ujian

مَنْ لَمْ يَرْكَبِ الأَهْوَالَ لَمْ يَنَلِ الآمَالَ

Siapa yang tidak pernah mengalami kesukaran, tidak akan mendapatkan cita-cita

الأَعْمَــالُ بِخَــوَاتِمِــهَا

Pekerjaan itu harus tuntas

اَلصَّبْرُ يُعِيْنُ عَلَى كُلِّ عَمَلٍ

Kesabaran itu menolong setiap pekerjaan

مَنْ تَأَنَّى نَالَ مَا تَمَنَّى

Siapa yang becita-cita, ia akan memperoleh apa yang dicitanya

جَرِّبْ وَلاَحِظْ تَكُنْ عَارِفًا

Cobalah dan perhatikanlah, kamu akan menjadi orang Arif

التَّعَلُّمُ فِى الصِّغَرِ كَالنَّقْشِ عَلَى الحَجَرِ

Belajar di waktu kecil itu bagaikan mengukir di atas batu

اَلْعِلْمُ بِلاَ عَمَلٍ كَالشَّجَرِ بِلاَ ثَمَرٍ

Ilmu yang tidak diamalkan itu bagaikan pohon tanpa buah

اُطْلُبِ الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إِلَى اللَّحْدِ

Tuntutlah ilmu dari sejak engkau digendong sampai engkau dikubur

اُطْلُبِ الْعِلْمَ وَ لَوْ بِالصِّيْنَ

Tuntutlah ilmu walaupun sampai negeri Cina

أَخِى لَنْ تَنَالَ الْعِلْمَ إِلاَّ بِسِتَّةٍ سَأُنْبِيْكَ عَنْ تَفْصِيْلِهَا بِبَيَانٍ: ذَكَاءٌ وَ حِرْصٌ وَاجْتِهَادٌ وَ دِرْهَمٌ وَ صُحْبَةُ أُسْتَاذٍ وَ طُوْلُ زَمَانٍ

Teman, ilmu itu tak dapat diperoleh kecuali dengan enam hal. Saya akan sebutkan kepadamu semuanya dengan jelas: kepintaran, ketamakan, kesungguhan, kekayaan, kedekatan dengan guru, dan waktu yang panjang

دَلِيْلُ عَقْلِ المرْءِ فِعْلُهُ وَدَلِيْلُ عِلْمِهِ قَوْلُهُ

Tanda orang berakal itu perbuatannya, dan tanda orang berilmu itu ucapannya

اَلْوَقْتُ أَثْمَنُ مِنَ الذَّهَبِ

Waktu itu lebih berharga daripada uang

إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تُطَاعَ فَسَلْ مَا يَسْتَطِيْعُ

Kalau kamu ingin ditaati, maka suruhlah apa yang bisa dikerjakan

الاِتِّحَــادُ أَسَــاسُ النَّجَــاحِ

Bersatu adalah pangkal kesuksesan

مَنْ أَحَبَّ شَيْئًا أَكْثَرَ مِنْ ذِكْرِهِ

Obat dari kebodohan adalah bertanya

خُذِ الحِكْمَةَ وَ لاَ يَضُـرُّكَ مِنْ أَيِّ وِعَاءٍ خَرَجَتْ

Ambillah hikmah, tak peduli, dari manapun sumbernya

HUKUM KEHIDUPAN

كُلُّ شَيْءٍ إِذَا كَثُرَ رَخُصَ إِلاَّ الأَدَبَ

Segala sesuatu, semakin banyak, semakin murah

إِنَّمَا الأُمَمُ الأَخْلاَقُ مَا بَقِيَتْ وَإِنْ هُمُوْا ذَهَبَتْ أَخْلاَقُهُمْ ذَهَبُوْا

Sesungguhnya bangsa itu tegak karena akhlak, dan hancur Karena akhlak

مَنْ يَزْرَعْ يَحْصُدْ

Siapa yang menanam, dia akan menuai

لِكُلِّ عَمَلٍ ثَوَابٌ وَ لِكُلِّ كَلاَمٍ جَوَابٌ

Setiap pekerjaan ada balasannya, setiap perkataan ada jawabannya

مَنْهُوْمَانِ لاَ يُشْبِعَانِ: طَلَبُ الْعِلْمِ وَ طَلَبُ الْمَالِ

Dua orang yang tidak pernah puas: pencari ilmu dan pencari harta

مَنْ أَحَبَّ شَيْئًا أَكْثَرَ مِنْ ذِكْرِهِ

Siapa yang menyukai sesuatu, ia akan banyak menyebutnya

لاَ تَكُنْ حُلْوًا فَتُسْتَوَطَ وَلاَ مُرًّا فَتُعْقَى

Jangan terlalu manis, kamu nanti ditelah, jangan juga terlalu pahit nanti dibuang

لَنْ تَرْجِعَ الأَيَّامُ الَّتِى مَضَتْ

Tidak akan kembali hari-hari yang telah berlalu

النَّاسُ اِتِّبـَاعُ مَنْ غَلَبَ

Manusia itu pengikut orang yang menang

سُوْءُ الخُلُقِ يُعْدِى

Perilaku buruk itu menular

إِذَا كَبُرَ المَطْلُوْبُ قَلَّ المـُسَاعِدُ

Semakin besar yang diminta, semakin sedikit yang bisa nolong

كُلُّ مَبْـذُوْلٍ مَمْلُوْلَـةٌ

Apapun yang setiap hari kita melihatnya, akan menimbulkan kebosanan

الْحَقُّ بِلاَ نِظَامٍ يَغْلِبُهُ البَاطِلُ بِنِظَامٍ

Kebenaran yang tidak diurus, akan kalah dengan kebatilan yang diurus

Mengharmonikan Legenda, Sains, dan Kitab Suci – Sejarah Dunia versi Islam

Mengharmonikan Legenda, Sains, dan Kitab Suci – Sejarah Dunia versi Islam

Mengharmonikan Legenda, Sains, dan Kitab Suci dalam Penulisan Sejarah Dunia Versi Islam

Oleh: Muhamad Arie Murtaza

Komodo

Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang perempuan yang hidup di sebuah pulau. Setelah tahun demi tahun berlalu dan musim pun berganti, Putri Naga, perempuan ini, menikah dengan Moja, seorang lelaki yang berasal dari seberang pulau. Tak lama kemudian, Putri Naga hamil dan melahirkan anak kembar, keduanya laki-laki. Akan tetapi, mereka begitu terkejut karena salah satu dari anak mereka kelihatan mirip seperti kadal sementara anak yang lainnya tampak normal seperti manusia biasa.

Anak yang seperti kadal itu mereka namakan “Orah” dan anak yang normal mereka namakan “Gerong”. Karena perasaan malu dari pandangan orang-orang di sekitar mereka, dengan hati sedih yang bercampur malu, mereka pun membawa Orah ke tengah hutan dan meninggalkannya di sana sementara Gerong tetap hidup bersama mereka layaknya seorang anak.

Lalu, setelah tahun demi tahun berganti, Gerong telah tumbuh menjadi pemuda yang kuat. Pada suatu hari, ia memasuki hutan untuk berburu rusa dengan menggunakan tombak. Tetapi tiba-tiba ia dihadang oleh seekor kadal raksasa. Dengan sigap, Gerong pun bersiap melemparkan tombaknya ke arah kadal itu, tetapi tiba-tiba ibunya, Putri Naga, datang mencegahnya lalu berkata: “jangan bunuh kadal ini. Dia Orah, saudara kembarmu!”.

Penduduk asli di Pulau Nusa Tenggara saat ini percaya bahwa mereka mempunyai hubungan darah dengan komodo-komodo, the living dragons, yang hidup di hutan-hutan sebelah tempat tinggal mereka. Mereka percaya, para komodo itu adalah saudara mereka sehingga mereka tidak pernah berusaha menyakiti the living dragons itu. Legenda ini, betapapun tidak masuk akal, mereka perlukan untuk menjelaskan asal-usul komodo dan memberikan alasan mengapa mereka harus hidup harmonis bersama reptil mematikan itu.

Komodo - Sumber: Google

Legenda

Memang, ada tiga sumber cerita sejarah: pertama tradisi lisan, cerita dari mulut ke mulut, yang disebut legenda, dongeng, atau mitos. Legenda berasal dari imajinasi manusia dan seringkali tidak dapat dipahami dengan akal sehat. Legenda tentang asal-usul komodo di atas adalah contohnya.

Menurut Joseph Cambell, legenda, betapapun palsunya, diperlukan manusia sebagai sandaran hidup.[1] Seorang aktivis dari Jamaica, Marcus Garvey mengatakan, A people without the knowledge about their past history, origin, and culture, is like a tree without root, masyarakat tanpa pengetahuan tentang sejarah masa lalu, asal-usul, dan kebudayaan, adalah bagaikan pohon tanpa akar.[2] Dengan kata lain, tanpa memiliki cerita tentang asal-usulnya, suatu masyarakat akan cepat tumbang.

Namun, pada masa kini, daripada bersandar kepada legenda—yang asasnya adalah imajinasi—manusia lebih percaya kepada sains—yang bersandar pada bukti-bukti.

Sains

Sains, khususnya yang menggeluti sejarah, menjadi alternatif untuk menyusun cerita sejarah. Sains menyelidiki masa lampau dengan mencari bukti-bukti. Arkeolog menggali batu-batuan, paleontolog mencari fosil-fosil tua, para pemburu data itu telah menemukan dokumen, prasasti, tengkorak, batu-batu yang terkubur di dalam lapisan tanah yang berusia sangat tua.

Metode radio karbon membantu ilmuwan menaksir usia bebatuan. Ketika Arthur Lakes menemukan gigi taring raksasa pada 1874 di Colorado, lalu dua puluh enam tahun kemudian Barnum Brown, menemukan sebagian kerangkanya yang besar di Wyoming timur, dan pada tahun yang sama, seorang paleontolog amatir, Sue Hendrickson, menemukan delapan puluh persen kerangka reptil mematikan ini di Dakota Selatan yang kemudian menyusunnya menjadi kerangka T-Rex seperti yang sekarang kita kenal.[4]

Setelah penemuan demi penemuan tersebut, disusunlah sebuah cerita: pada zaman dahulu kala, pada zaman sekitar 115 juta tahun yang lalu, pernah hidup spesies kadal raksasa. Beratnya—yang ditemukan Sue—sekitar 5650 Kg dan masa hidupnya—berdasarkan analisis Histologi—mencapai 28 tahun. Inilah cerita sejarah versi sains, begitu akurat dan menarik, terlalu berharga untuk kita abaikan, bukan?

T-Rex Sue - Sumber: Wikipedia

Kelemahan Sains Karena Watak Empiriknya

Akan tetapi, sains juga memiliki kelemahan, weakness. Kita harus mengakuinya. Kelemahan sains adalah keterbatasannya pada ruang lingkup perkara indrawi, pada pengalaman manusia, empiric.

Sains tidak berwewenang menyelidiki perkara gaib yang tidak dapat terdeteksi indra manusia.[5] Sains mungkin bisa mendeskripsikan pola perilaku orang-orang yang beragama tetapi ia tidak dapat melukiskan Tuhan. Teleskop Hubble mungkin telah berhasil menemukan bahwa galaksi-galaksi bergerak semakin menjauh yang mengindikasikan bahwa pada awalnya, alam semesta yang luas ini pernah berkumpul dalam satu titik energi yang lebih kecil dari tanda titik yang mengakhiri kalimat ini. Akan tetapi sains tidak dapat lagi menjelaskan apa yang terjadi sebelum peristiwa big bang itu, apalagi menjelaskan dari mana semua ini berasal dan hendak ke mana semua ini akan pergi. Apakah yang akan terjadi pada akhirnya? Untuk apa kehidupan singkat manusia terjadi? Adakah tujuannya?

Semua pertanyaan eksistensial tersebut tidak dapat dijelaskan dengan teleskop Hubble. Inilah keterbatasan sains, sementara tujuan tertinggi kita membaca sejarah bukan hanya mengetahui apa yang terjadi tetapi juga agar kita dapat mengambil pelajaran, ibroh, dari apa yang terjadi, mengapa umat-umat terdahulu musnah diterjang banjir atau ditempa badai topan yang mematikan.

Kelemahan Sains Karena Keterbatasan Datanya

Selain karena keterbatasan cakupannya yang mesti empiric, kelemahan sains dalam melukiskan sejarah juga bisa dikarenakan keterbatasan data-data yang dikumpulkan, apalagi menyangkut masa lampau yang sangat jauh. Apabila data belum lengkap, sebuah cerita sejarah akan sulit untuk disusun sempurna, bahkan bisa berbalik menyesatkan.

Karena kelemahan tersebut, cerita sejarah yang didasarkan atas sains pun akhirnya melibatkan imajinasi. Contoh ekstrim dan kontroversial mengenai hal ini adalah tentang temuan fosil-fosil pra-ikan, trilobita, tulang-belulang, tengkorak dan hingga peralatan batu-batu runcing yang kemudian dinarasikan sebagai sejarah evolusi makhluk hidup.

Temuan-temuan fosil yang mendukung cerita sejarah evolusi makhluk hidup sangat tidak memadai—untuk tidak menyebut tidak memenuhi syarat ilmiah—walaupun jumlah temuannya mencapai ratusan ribu keping tulang, dan mestinya keterbatasan ini mencegah seorang ilmuwan untuk memulai imajinasinya. Tetapi, khususnya dalam cerita evolusi makhluk hidup ini, sepertinya, ada godaan untuk meletakkan imajinasi di atas bukti, menciptakan narasi walaupun dengan keterbatasan data. Istilah kasarnya, “bikin aja ceritanya dulu, bukti-buktinya menyusul kemudian.”

Narasi Evolusi Makhluk Hidup

Akhirnya, disusunlah narasi—seperti disampaikan oleh HG. Wells dalam A Short History of the World—bahwa setelah bumi terbentuk pada 4,5 miliar tahun yang lalu, planet ini mengalami fase badai api dahsyat yang berakhir dengan terciptanya lautan di atas bebatuan tandus. Lalu, sel tunggal—tanpa DNA—pertama muncul di air, sekitar 3,5 miliar tahun yang lalu. Dari mana dan bagaimana sel pertama ini muncul? Dari mana benih kehidupan pertama ini tumbuh? Belum ada bukti dan data yang pasti sehingga para ilmuwan meletakkan persoalan ini ke dalam salah satu misteri yang belum mampu dipecahkan sains.

Kemudian, muncullah makhluk-makhluk pra-ikan, kerang-kerangan, siput, trilobita dan kawan-kawannya. Lalu tumbuhan muncul di daratan yang mestinya melewati fase panjang terjadinya klorofil dan percobaan-percobaan fotosintesis. Lalu ikan itu pindah ke darat sebagai reptil, lalu reptil berkembang menjadi burung dan mamalia. Bagaimana prosesnya?

Bagaimana evolusi antar-spesies ini bisa mendobrak keteraturan dalam genetika bahwa ikan hanya akan menelurkan ikan dan kambing hanya melahirkan kambing? Apakah sekarang kita akan percaya bahwa Putri Naga telah melahirkan komodo? Jawabannya, semua itu adalah mustahil, akan tetapi para ilmuwan yang bersikeras untuk mempertahankan narasi ini biasanya mengemukakan konsep mutasi, kecelakaan genetik yang menciptakan spesies baru.

Mutasi DNA - Sumber: Nature.com

Katakanlah seekor ikan—yang bernafas dengan insang — mengadu nasibnya untuk hidup di darat. Lalu apakah ketika ia bertelur dan salah satu keturunannya mengalami mutasi sehingga ia tiba-tiba memiliki paru-paru? Ataukah paru-paru itu terbentuk perlahan demi perlahan sebelum ia menjadi sempurna? Sebutlah ikan ini telah berhasil menjadi reptil di daratan, lalu bagaimana ia beradaptasi untuk mengembangkan sayap dan menjadi burung? Apakah mutasi kembali menjadi jawabannya? Apakah upaya untuk melompat yang terjadi selama ratusan tahun mendukung terjadinya mutasi sehingga reptil bisa melahirkan makhluk setengah burung setengah reptil yang kemudian dalam waktu yang panjang berevolusi menjadi burung sempurna? Lalu bagaimana ceritanya reptil itu bisa berkembang menjadi mamalia? Apakah mutasi lagi yang menjelaskan perkara ini?

Ilustrasi Evolusi Makhluk Hidup - Sumber: Creationengineeringconcept.org

Kemudian, apakah mamalia akan menurunkan banyak jenis hewan dan termasuk di dalamnya primata yang nantinya akan mengalami kecelakaan genetik sehingga menciptakan manusia? Lalu, di antara semua spesies, mengapa hanya kita yang mendapatkan kesadaran? Jadi, apakah kehidupan ini terjadi karena berjuta-juta kecelakaan genetik secara beruntun dan periodik yang tidak terduga yang kita sebut mutasi? Apakah kehidupan yang canggih ini terjadi hanya karena kebetulan-kebetulan atau kecelakaan-kecelakaan seperti di atas?

Fred Hoyle, seorang astronom Inggris, menyatakan bahwa peluang munculnya makhluk hidup dengan cara kebetulan adalah “sebanding dengan peluang angin tornado yang menyapu lahan penimbunan barang-barang bekas dan kemudian merakit sebuah pesawat Boeing 747 dari bahan-bahan yang ada di dalamnya.”[6]

Kembali lagi ke pembicaraan kita, dalam cerita evolusi makhluk hidup ini—yang dikemukakan Darwin dalam The Origin of Species by Means of Natural Selection—kita benar-benar mengalami kekurangan data, terutama mengenai ketersediaan fosil transisi. Di manakah fosil-fosil transisi yang menjadi jembatan antar spesies tersebut? Karena datanya tidak lengkap tetapi narasinya sudah disusun sekaligus dipasarkan secara sistematis dalam buku-buku teks sekolah, kita merasa curiga, sepertinya ada kepentingan terselubung yang ingin dilakukan oleh pihak tertentu.

Kelemahan Sains Karena Distir  oleh Kaum Materialis-Ateis

Karena upaya yang terlalu memaksakan tersebut maka sebagian orang, baik dari kalangan Islam—yang meyakini Qur’an—ataupun Kristen—yang meyakini Bible—melihat bahwa cerita evolusi makhluk hidup tampaknya distir oleh orang-orang yang ingin membuat narasi sejarah sedemikian rupa sehingga Sang Pencipta tidak terlibat—untuk menyebut dihilangkan—dalam mekanisme terjadinya segala sesuatu di alam semesta.

Orang-orang ini, dari gejalanya, hendak memasarkan ideologi materialisme. Materialisme adalah faham yang meyakini bahwa alam semesta ini semuanya hanya tersusun dari material, materi, dari atom-atom yang bekerja dan bergerak dengan sendirinya, tanpa campur tangan kuasa Tuhan dan atom-atom ini beserta alam semesta adalah bahan mentah yang abadi, telah ada dan akan selalu ada. Dalam astronomi, ideologi ini menyusup dalam steady-state theory, sebuah teori yang memandang alam semesta ini selalu dalam keadaan tetap[7], tidak ada asal-mulanya, dengan kata lain, tidak ada Sang Pencipta.

Kita dapat melihat dengan jelas, teori steady-state yang menghilangkan peran Tuhan di langit sepertinya akan dilanjutkan dengan teori origin of species by means of natural selection yang menghilangkan peran Tuhan di bumi. Tampaknya, ada kepentingan yang dilakukan secara terstruktur lewat sains.

Apakah sains yang netral ini bisa distir oleh kepentingan golongan tertentu? Kenapa tidak? sains itu ibarat pistol, ia tidak jahat, ia tergantung siapa yang menggunakannya, who is the man/woman behind the gun? Ibarat sarung tangan Thanos dalam film Avenger End Game, ketika Thanos menggunakannya, ia membunuh setengah dari populasi bumi, tetapi ketika Iron Man yang menggunakannya, ia menyelamatkan umat manusia.

Lagipula, bukankah sains modern lahir sebagai antitesis dari agama yang kala itu menghegemoni kebebasan berfikir orang-orang Eropa? Marilah kita baca kembali sejarah kelam para ilmuwan Eropa yang bermusuhan dengan agama. Bukankah Galileo dipenjara gara-gara mengemukakan ide heliosentris yang bertentangan dengan agama (Kristen)? Bukankah Giordano Bruno harus dibakar oleh Roma karena mendukung ide yang sama?[8]

Eksekusi Giordano Bruno - Sumber: samirrakhmanov.artstation.com

Sains modern lahir sebagai otoritas alternatif yang ingin lepas dari otoritas agama (Kristen), yang dibidani oleh orang-orang yang kecewa terhadap agama. Kenapa kecewa? Karena agama (Kristen) dianggap bertentangan dengan fakta-fakta saintifik, menghalangi kebebasan berfikir, menghalangi humanity, dan bertindak dengan tangan besi.

Maka tidaklah aneh jika para filsuf dan ilmuwan yang “kecewa” (terhadap hegemoni Kristen) dan para pengikutnya yang membabi-buta berusaha menghaluskan jalan menuju sains yang bebas dari Tuhan dan agama. Inilah agaknya yang sedang dilakukan oleh kaum materialis.

Oleh karena itu, sejarah tidak akan sempurna apabila kita hanya mengandalkan sains. Kita perlu mengandalkan sumber cerita lainnya, cerita dari kitab suci.

Kitab Suci

Kitab suci boleh jadi dianggap tidak ilmiah karena metodenya yang meminta manusia untuk percaya walaupun tanpa bukti. Tetapi inilah karakter agama: beriman sebelum berilmu, percaya sebelum bertanya. Tetapi, kewajiban iman ini—khususnya dalam agama Islam—tidak memasung manusia untuk bertanya. Seorang Mu’allaf Amerika, Jeffery Lang, pernah menulis sebuah buku berjudul, Even Angels Ask. Malaikat pun diperbolehkan untuk mempertanyakan keputusan Tuhan yang ingin menciptakan manusia. Peristiwa itu pernah terjadi. Kala itu Tuhan tidak menghukum malaikat karena bertanya, tetapi Dia mengungkapkan bahwa ada sesuatu dari manusia yang belum dipahami malaikat. Sesungguhnya Aku lebih Mengetahui apa yang kalian tidak ketahui.[9]

Jeffery Lang - Sumber: Pinterest

Seorang muslim boleh untuk beriman dengan kritis. Bukankah Nabi Ibrahim pernah meminta kepada Allah: Robbi, arini kayfa tuhyil mawta. Ya Allah, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan makhluk yang sudah mati. Kata Allah, a walam tu’min? Apakah Engkau tidak percaya? Lalu jawab Ibrahim, balaa. Walakin liyatma’inna qolbi, Aku percaya, tapi (melihat bukti ini tujuannya adalah) agar hatiku menjadi tenang.[10] Lalu Allah pun memperlihatkan kepada Ibrahim bagaimana proses menghidupkan burung yang sudah mati.

Tidak ada pembungkaman berfikir dalam agama (khususnya Islam), justru agama harus dibangun dengan berfikir. Tuhan wajib kita cari dengan ber-tafakkur, memikirkan fenomena di alam raya ini yang merupakan tanda-tanda kekuasaan Tuhan. Al-Qur’an selalu menantang kita: A fala tafakkarun? A fala tadabbarun? A fala ta’qilun? Yang semuanya bermakna: apakah kalian semua tidak memikirkannya?

Bagi orang-orang yang meyakininya, kitab suci merupakan kebenaran. Isinya, informasinya, berasal dari Tuhan. Contohnya adalah tentang kisah penciptaan manusia pertama.

Baik Al-Quran maupun Bible menceritakan secara lengkap bagaimana manusia pertama yang bernama “Adam” diciptakan. Informasi ini menjadi dasar dalam buku-buku cerita sejarah Islam bahwa manusia bernasab kepada seorang nabi, bukan kepada primata seperti yang diimajinasikan dalam narasi evolusi makhluk hidup di atas.

Tetapi, persoalannya adalah, apakah kita, manusia, bahkan yang berpegang-teguh pada sains, mau percaya pada Tuhan sehingga kemudian mau mendengarkan cerita sejarah versi kitab suci?

Tuhan

Sebenarnya, rata-rata manusia percaya pada Tuhan. Sejak zaman kuno manusia telah meyakini Adanya Tuhan, bahkan mereka sangat yakin. Di Mesir, Fir’aun membangun obelisk, tugu-tugu rucing yang dipersembahkan kepada Tuhannya, dewa matahari. Bangsa Babilonia dan Persia juga demikian. Mereka membangun kuil-kuil pemujaan dewa-dewi. Orang-orang Maya dan mereka yang merupakan penduduk Amerika kuno juga memuja Tuhan. Kuil-kuil berbentuk piramida yang mereka bangun tidak lain dan tidak bukan merupakan bangunan untuk mendekati Tuhan. Kita tidak usah membahas orang-orang Yunani, mereka bangsa yang sangat “ber-Tuhan”. Dewa-dewi mereka begitu populer dengan cerita-ceritanya yang dramatis sehingga belakangan dibuatkan filmnya oleh Hollywood dengan judul Clash of the Titans, konflik antar Tuhan, antara Zeus sang dewa petir, Poseidon sang dewa laut, atau Ares sang dewa perang.

Jadi, masalah bangsa-bangsa kuno itu bukanlah karena mereka semua tidak ber-Tuhan, tetapi justru karena Tuhan mereka terlalu banyak (politeistik, musyrik) dan terlalu imajinatif.[11]

Pada zaman ketika manusia tidak berdaya di hadapan alam, dongeng-dongeng telah dibuat dan patung-patungnya pun dipahat. Cerita tentang Osiris, Isis, dan Horus—yang menjadi legenda bangsa Mesir kuno—adalah jalan keluar imajinatif untuk menangani masalah banjir akibat luapan Sungai Nil dan mengatasi problem kesuburan pertanian. Gadis cantik yang mereka lempar ke dasar Nil didasarkan atas asumsi imajinatif bahwa dewi sungai Nil itu ada dan dapat dibujuk dengan persembahan kurban gadis cantik itu. Meskipun tersesat dalam kesalahan tetapi pada faktanya bangsa-bangsa kuno adalah orang-orang yang takut kepada Tuhan.

Justru baru-baru ini saja, pada zaman modern, manusia menolak adanya Tuhan. Permusuhan antara ilmuwan—seperti Galileo dan Bruno—dan agamawan telah kita singgung sebelumnya yang mengakibatkan lahirnya golongan materialis, golongan yang menolak Tuhan dalam sistem kerja kehidupan.

Selain itu, golongan ini juga menganggap kehadiran Tuhan mengakibatkan matinya kemerdekaan manusia, matinya kemerdekaan berkehendak, berfikir, berbuat, dan berkarya. Tuhan dianggap sebagai antitesis dari freedom dan humanity. Fredriech Nitczhe mengatakan, God is Dead. Karl Marx menganggap agama sebagai candu yang membuat masyarakat menjadi lemah dan cenderung enjoy ketika ditindas kaum Kapitalis. Sigmund Freud menganggap agama sebagai delusi, pelarian manusia, bukan sesuatu yang nyata dan berdasar. Bahkan, belum lama ini, Stephen Hawking sebelum meninggal menulis dalam Grand Design bahwa alam semesta ini hanyalah satu dari banyak semesta dan semuanya tercipta tanpa Tuhan.

Baru pada zaman inilah Tuhan dilawan. Baru pada zaman inilah gejala ateisme atau ketidakpercayaan kepada Tuhan—seperti yang ditunjukkan oleh Nitzhe, Marx, Freud, dan Hawking di atas—muncul. Sainslah yang menjadi kendaraan bagi ateisme yang kemudian menanamkan keraguan terhadap Tuhan di dalam hati manusia, sebuah penyakit yang kini dianggap modern dan cool karena didasarkan atas sains, didasarkan atas percobaan empiris. Sehingga, kini, tidak sedikit orang yang dengan mudahnya mengatakan, “saya ateis”.

Sedemikian dianggap coolnya ateisme, sampai menurut survei yang dilakukan Ethical Humanist Association terhadap penduduk Reykjavik Islandia pada 2016, setengah dari anak-anak Muda di Islandia, khususnya yang berusia di bawah 25 tahun, percaya bahwa dunia ini diciptakan oleh Big Bang, bukan oleh Tuhan.[12]

Bahkan, gejala ateisme tersebut juga kini telah melanda dunia. Survei yang dilakukan oleh WIN-Gallup International pada 2012 memperlihatkan jumlah pengikut ateisme yang berada pada angka 13% dari populasi dunia, meningkat 3% dibandingkan tahun 2005 dan meningkat 10,7% dibandingkan tahun 1999 yang hanya berada di angka 2,3%. Mayoritas ateisme ini terkonsentrasi di Tiongkok sebesar 47%, di Jepang 31%, di Eropa Barat 14%. Selain itu, 23% dari penduduk dunia juga mengaku “tidak religius”, artinya mereka beragama tetapi tidak menjalankan agamanya.[13]

Betapa banyak orang-orang yang menganggap seolah-olah sains telah menjelaskan semuanya, seakan hanya beberapa keping puzzle sepele yang belum ditemukan untuk menatap lukisan alam semesta, padahal alam semesta ini masih terlalu sulit untuk dilukiskan dan masih terlalu banyak menyimpan misteri, masih jauh dari bayangan kita, soal ada apa sebelum big bang, force apa yang mengatur alam semesta dari tingkat sub-atomik hingga tingkat super-cluster, bagaimana sel hidup pertama muncul, bagaimana spesies yang beranekaragam bisa lahir, bagaimana kesadaran manusia pertama kali tumbuh, dan seterusnya. We still have so many home works to do. Thomas Alva Edison mungkin telah menciptakan bohlam yang menerangi kamar kita yang gelap, tetapi cahaya sains masih jauh dari cukup untuk menjadi lentera kehidupan manusia.

Bukanlah ranah sains untuk membicarakan alam gaib, menyelidiki masa lampau yang terlalu jauh, apalagi menemukan makna kehidupan. Tidak ada jalan lain, satu-satunya andalan manusia adalah agama.

Agama yang dapat memberitahukan manusia, dari mana dia berasal, untuk apa dia hidup di dunia, dan setelah mati akan pergi ke mana. Semua itu dijelaskan oleh Tuhan melalui lidah para nabi, hanya saja, pertanyaannya, apakah manusia bersedia percaya kepada Tuhan, mau percaya bahwa para nabi menerima wahyu langsung dari Tuhan Sang Pencipta alam semesta ini? Apakah Anda seorang muslim ataukah non-muslim, marilah kita meninjau hakikat agama Islam ini.

Islam

Agama Islam, agama yang dibawa oleh Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan hingga  Muhammad, percaya bahwa para nabi berbicara atas nama Tuhan. They speak for God. Mereka adalah pesuruh Tuhan. Kata Nabi bermakna “pembawa berita dari Tuhan”. Berita apa? Berita gaib, berita yang tidak dapat diverifikasi oleh sains, berita tentang dari mana manusia datang dan hendak kemana ia akan pergi.

Seorang Nabi—sebagaimana disebutkan Asy-Syaukani—tidak membawa syari’at dan tidak menerima wahyu dari malaikat Jibril, tetapi ia menerima ilham, suatu bentuk one way traffic communication dari Tuhan kepada manusia. Syari’at yang ia dakwahkan kepada umatnya adalah syari’at yang telah diturunkan kepada seorang Rasul sebelum dirinya.[14] Contohnya Nabi Harun, ia tidak mengajarkan—kepada Bani Israil—apapun kecuali Taurat yang telah diturunkan kepada Nabi Musa.

Adapun seorang Rasul adalah seseorang yang Tuhan pilih untuk melakukan suatu tugas, untuk menyampaikan risalah kepada umat manusia. Tetapi bagaimana manusia yang fisik dapat berhubungan dengan Tuhan yang non-fisik? Bagaimana makhluk nisbi dapat berkomunikasi dengan Sang Pencipta yang Abadi? Untuk keperluan ini, maka Tuhan pun menggunakan Rasul yang lain, yaitu makhluk gaib dari unsur cahaya bernama malaikat.

Dalam Al-Qur’an, malaikat Jibril juga disebut Rasul karena ia juga mendapatkan perintah dari Tuhan untuk melaksanakan banyak urusan, di antaranya untuk menyampaikan risalah dari Tuhan kepada para nabi.

Malaikat Jibril, panglimanya para malaikat, adalah jembatan antara dunia metafisik dan dunia fisik, antara alam ghaib dan alam syahadah, antara dua dimensi yang berbeda. Malaikat Jibril membawa wahyu dari Allah kemudian menyampaikannya kepada para Rasul—yang seluruhnya berjumlah 315 orang—yang dimulai dari Nabi Adam dan berakhir pada Nabi Muhammad. Tidak ada satu umat pun yang tidak diutus kepada mereka seorang Rasul atau Nabi. Sebanyak 124.000 nabi telah dikerahkan kepada semua umat manusia di sepanjang zaman untuk mengajak manusia menyembah Allah, Tuhan Satu-Satunya.

Wahyu yang disampaikan oleh para Rasul dihimpun menjadi kitab suci. Himpunan kitab suci yang dibawa oleh Musa menjadi hukum bagi Bani Israil dan disebut Taurat, himpunan Wahyu Daud disebut Zabur, himpunan Wahyu Isa disebut Injil dan himpunan Wahyu yang diajarkan Muhammad disebut Al-Qur’an.

Al-Qur’an sebagai kitab suci yang terakhir adalah revisi final dari kitab suci-kitab suci yang pernah diturunkan, yakni Taurat dan Injil. Sebab, bukanlah sebuah rahasia lagi untuk mengatakan bahwa Taurat yang kini menjadi pedoman bangsa Israel dan Bible—yang berisi himpunan Taurat dan Injil—yang menjadi pedoman umat Kristiani telah mengalami banyak perubahan, interpolasi, dari versi aslinya. Taurat bangsa Israel telah ditulis-ulang dengan menghapus hal-hal yang tidak menguntungkan bangsa Israel. Adapun Injil, kitab yang kini dipegang umat Kristiani, turut menghimpun surat-surat Paulus yang mengajarkan ketuhanan Isa yang membuat hampir sepertiga dari penduduk planet ini menganggap Isa adalah anak Tuhan dan juru selamat bagi umat manusia.

Walaupun, khusus mengenai interpolasi dalam Injil, dibantah oleh Elijah Syeikh, cendikiawan Kristen Iran, namun fakta-fakta tentang perubahan atau interpolasi Bible ini terlalu gamblang dan telah luas dibahas oleh para ilmuwan, antara lain oleh Karen Arsmtrong dalam Sejarah Tuhan dan Sejarah Alkitab.[15]

Umat Islam percaya bahwa Nabi Muhammad merupakan Nabi dan Rasul terakhir yang diutus untuk meluruskan agama Islam yang sebenarnya juga merupakan agamanya Isa—yang disembah oleh umat Kristiani—dan Musa—yang dianggap sebagai salah satu nabi terpenting dalam sejarah Israel.

Umat Islam meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci yang orisinil dan merupakan Kalam Ilahi yang suci dari rekayasa manusiawi. Walaupun ayat-ayat Al-Qur’an—sebagian kecilnya—turun untuk menjawab realitas yang terjadi pada zaman Nabi, untuk menjawab pertanyaan aksidental yang ditanyakan oleh orang-orang kepada Nabi, dan singkat-kata, melebur dalam sejarah, dikemas dalam bahasa Arab yang merupakan bagian dari sejarah, namun umat Islam percaya bahwa Kalam Ilahi ini suci dari intervensi sejarah, ia merupakan Kalam Ilahi yang Abadi sejak zaman azali. Perkara ini akan terdengar mirip dengan perkara taqdir, predestination, di mana manusia berkehendak pada hari ini tetapi sebenarnya Tuhan telah menuliskannya pada zaman azali.

Akan tetapi, ada beberapa hal yang cukup kuat untuk membuktikan orisinalitas Al-Qur’an sebagai wahyu ilahi. Karena salah satu pondasi buku sejarah ini adalah Al-Qur’an maka perlulah di sini untuk dikemukakan mengenai orisinalitas dan otoritas Al-Qur’an sebagai sumber sejarah yang akan kita gali. Kita tidak akan mengupas semuanya. Bagi pembaca yang penasaran dan ingin terkagum-kagum kepada Al-Qur’an, silahkan membaca buku Mukjizat Al-Quran yang dikarang oleh Prof. Quraish Shihab.[16]

Pertama, berbeda dari Bible yang sebagian isinya bertentangan dengan sains—seperti kesalahan Bible yang mengatakan bahwa bumi ini merupakan pusat alam semesta, tidak ada satu ayat Al-Qur’an pun yang bertentangan dengan sains modern. Malah, ayat-ayat Al-Qur’an yang turun sekitar seribu tiga ratus tahun yang lalu di gurun Arabia, telah menyebutkan fakta-fakta saintifik yang baru ditemukan pada abad ke-20. Berikut akan kami kemukakan beberapa contohnya.

Ketika teleskop Hubble, pada abad ke-20, baru menguatkan pandangan bahwa alam semesta yang luas ini pernah memadat dalam satu titik energi yang sangat kecil yang kemudian meledak dan menciptakan dentuman besar yang dikenal dengan big bang, Al-Qur’an yang turun di gurun Arabia sekitar seribu tiga ratus tahun sebelumnya telah mengatakan “apakah orang-orang kafir itu tidak tahu bahwa langit dan bumi, keduanya, dahulu satu padu—rapat—kemudian kami pisahkan keduanya.” (QS. Al-Anbiya: 30)

Big Bang (Dentuman Besar) - Sumber: UPI.com

Ketika astronomi pada abad ke-20 baru menemukan bahwa matahari merupakan sumber cahaya di tata surya sementara bulan cahayanya hanya merefleksikan cahaya matahari, Al-Qur’an yang turun di gurun Arabia sekitar seribu tiga ratus tahun sebelumnya telah membedakan antara cahaya matahari (sebagai sumber cahaya) dan cahaya bulan dalam ayat “Maha suci Allah yang telah menciptakan di langit bintang-bintang yang besar, dan menciptakan di sana lampu yang terang (yakni matahari) dan bulan yang bercahaya (QS. Al-Furqon: 21)

Cahaya Bulan Pantulan Cahaya Matahari - Sumber: Quora.com

Ketika astrofisika pada abad ke-20 baru menemukan bahwa alam semesta ini semakin mengembang seperti balon yang ditiup, meluas menjauhi titik ledakan big bang, maka Al-Qur’an yang diturunkan di gurun Arabia sekitar seribu tiga ratus tahun sebelumnya telah mengatakan, Dan langit, Kami membangunnya dengan Kekuasaan. Dan sungguh, benar-benar kami terus memperluasnya. (QS. Adz-Zariat: 47)

Perluasan Alam Semesta - Sumber: Science-sparks.com

Ketika geologi pada abad ke-20 baru mampu menemukan bahwa gunung merupakan bagian kecil dari kulit bumi yang menonjol sementara bagian besarnya memancang seperti pasak ke perut bumi yang berfungsi sebagai pasak untuk membuat permukaan bumi layak huni, Al-Qur’an yang diturunkan di gurun Arabia sekitar seribu tiga ratus tahun yang lalu telah mengatakan Bukankah telah Kami Jadikan bumi ini sebagai tempat tinggal? Dan gunung-gunung sebagai pasaknya? (QS. An-Naba: 6-7)

Pasak-Pasak Gunung - Sumber: Islam-guide.com

Ketika biologi pada abad ke-20 baru menemukan bahwa lebah diperintah oleh ratu lebah dan para lebah pekerja yang membawa madu dari bunga ke sarang adalah lebah-lebah betina, Al-Qur’an yang diturunkan di gurun Arabia sekitar seribu tiga ratus tahun sebelumnya telah mengatakan, Dan Tuhanmu telah mewahyukan kepada lebah: jadikanlah, ittakhidzii, (ittakhidzii, sebuah kata perintah dalam bahasa Arab yang ditujukan kepada perempuan. Jika kepada laki-laki bukan ittakhidzii, tetapi ittakhidz) gunung-gunung sebagai tempat tinggalmu, dan juga pohon-pohon, dan di manapun yang tegak berdiri (QS. An-Nahl: 68)

Ketika biologi pada abad ke-20 baru menemukan bahwa semut diperintah oleh semut betina, Al-Qur’an yang diturunkan di gurun Arabia sekitar seribu tiga ratus tahun yang lalu telah merekam ucapan semut ketika Nabi Sulaiman akan melintas, Berkatalah Ratu Semut/Semut betina, Namlah, wahai naml (semut jantan), masuklah kalian ke dalam rumah kalian agar tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya sementara mereka tidak menyadarinya (QS. An-Naml: 18)

Ketika biologi pada abad ke-20 baru menemukan sistem peredaran darah, di mana usus menyerap substansi penting dari makanan lalu melalui darah, mengirimnya ke seluruh organ tubuh yang di antaranya menghasilkan susu, Al-Qur’an yang diturunkan di gurun Arabia sekitar seribu tiga ratus tahun yang lalu telah mengatakan sesuatu tentang peredaran darah, Sesungguhnya pada hewan ternak ada pelajaran bagi kalian: Kami memberi-minum kalian dari apa yang keluar dari perutnya (susu), dari antara usus dan darah, menjadi susu murni …. ( An-Nahl: 66)

Ketika biologi pada abad ke-20 baru menemukan adanya reseptor rasa sakit yang menempel pada kulit manusia—sehingga manusia dapat merasakan perih—Al-Qur’an yang diturunkan di gurun Arabia sekitar seribu tiga ratus tahun yang lalu, ketika berbicara tentang siksaan di neraka menyinggung soal kulit, Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Kami, Kami akan bakar mereka dengan api. Ketika kulit mereka telah habis, kami ganti lagi dengan kulit lainnya agar mereka merasakan adzab… (QS. An-Nisa: 56).

Itulah sebagian dari ayat Al-Qur’an yang diturunkan tiga ratus tahun yang lalu yang berbicara tentang fakta-fakta yang baru ditemukan sains pada abad ke-20. Cukup banyak buku-buku yang menguraikan topik ini, antara lain buku Dr. Zakir Naik, Al-Quran and the Modern Science Compatible or Incompatible?[17]

Selain karena wataknya yang selalu one step ahead of science, Al-Qur’an juga mengandung konten matematis yang begitu menakjubkan. Penelitan Dr. Rasyad Khalifah dan Abdulrazaq Naufal akan mengakhiri argumentasi kami mengenai orisinalitas dan otoritas Al-Qur’an sebagai Kitab Suci ilahi.

Pertama, Dr. Rasyad Khalifah mengemukakan angka 19 sebagai angka patron yang menjadikan Al-Qur’an sebagai kitab suci yang sangat matematis. Kalimat Basmalah yang mengawali Al-Qur’an terdiri dari 19 huruf. Al-Qur’an terdiri dari 114 surat (19×6), wahyu pertama, Surat Al-Alaq 1-5 terdiri dari 19 kata dan 76 huruf (19×4). Wahyu pertama, seluruh ayatnya berjumlah 19 dan merupakan urutan ke-19 surat Al-Qur’an dari belakang. Surat ini terdiri dari 304 huruf (19×16).

Kedua, Abdulrazaq Naufal dalam Al-I’jaz Al-Adad Al-Qur’an Al-Karim menyebutkan keseimbangan-keseimbangan dalam konten Al-Qur’an. Perhatikan tabel-tabel berikut ini:

Note: Tersebut dalam Al-Qur'an Masing-Masing dengan Jumlah yang Sama
Note: Tersebut dalam Al-Qur'an Masing-Masing dengan Jumlah yang Sama
Note: Tersebut dalam Al-Qur'an Masing-Masing dengan Jumlah yang Sama
Note: Tersebut dalam Al-Qur'an Masing-Masing dengan Jumlah yang Sama

Semua keseimbangan matematis tersebut adalah bukti kekuasaan Tuhan. Mengingat fakta bahwa ayat-ayat Al-Qur’an turun pada abad ke-7 Masehi di gurun Arabia secara berangsur-angsur, di mana sebagian ayatnya justru diturunkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan umat, maka mustahil ketika ayat-ayat itu dihimpun menjadi satu Kitab lalu mempertontonkan kepada kita keseimbangan-keseimbangan yang menakjubkan seperti pada tabel di atas.

Keseimbangan di atas adalah bukti bahwa Al-Qur’an berasal dari Tuhan, bukan karangan manusia, bukti bahwa Al-Qur’an, kitab suci yang dipegang oleh umat Islam adalah orisinil dan memiliki otoritas untuk kita jadikan sandaran.

Sebagian dari isi wahyu adalah informasi tentang sejarah. Sebagian isi Al-Qur’an adalah kisah-kisah. Jika kita meyakini bahwa wahyu dalam kitab suci adalah kebenaran, maka secara logika kita pun mestinya meyakini kebenaran sejarah versi kitab suci.

Mendamaikan Legenda, Sains dan Kitab Suci dalam Penulisan Sejarah

Di atas, kita telah membicarakan tiga sumber cerita sejarah: legenda, sains, dan kitab suci, khususnya Al-Qur’an. Kita telah menyinggung sedikit tentang asal-usul komodo, dewa-dewi Mesir, cerita evolusi makhluk hidup, Avenger, ateisme, hingga mukjizat Al-Qur’an. Semua itu tampaknya merupakan topik-topik yang acak padahal tidak demikian. Semuanya merupakan bagian-bagian penting dari sumber sejarah yang akan kita gali untuk memperkaya buku ini.

Telah banyak buku sejarah yang ditulis berdasarkan legenda dan tidak terhitung buku-buku yang dikarang berdasarkan temuan sains serta tidak sedikit juga buku-buku sejarah yang disusun berdasarkan informasi dari kitab suci. Kini, pertanyaannya adalah: adakah titik temu dari ketiganya?

Penulis meyakini adanya titik temu dari ketiga sumber tersebut.

Namun demikian, tidak ada sinergi yang benar-benar sempurna. Ada waktunya kita akan menjelaskan Al-Qur’an dengan bukti-bukti saintifik (sinergi). Ada kalanya kita akan mengabaikan sains atau legenda dan menggunakan Al-Qur’an (konflik). Ada saatnya kita hanya mengutip sains tanpa mengutip Al-Qur’an karena kitab suci tersebut tidak berbicara mengenai topik yang sama (harmoni).

Pada buku ini, kita akan memberikan prioritas pertama kepada Al-Qur’an dan kedua, kepada sains. Legenda hanya kita akan jadikan sebagai pelengkap.

Kerangka besar dalam cerita sejarah manusia akan kita buat berdasarkan informasi Kitab Suci, karena di sini bukan wewenang sains dan bukan pula filsafat. Tetapi, kita akan menempatkan cerita-cerita Al-Qur’an dalam time line yang telah dibuat oleh sains. Periodisasi sejarah yang dilakukan oleh geologi akan tetap kita gunakan untuk melukiskan zaman-zaman yang berusia milyaran tahun yang lalu.

Tidak banyak buku-buku sejarah—berbahasa Indonesia—yang ditulis dengan metode yang mengharmonikan antara sains dan agama. Asal Usul Manusia yang dikarang Dr. Moris Bucaille, Ternyata Adam Dilahirkan karangan Agus Musthofa, atau Perjalanan Akbar Ras Adam tulisan Agus Haryosudarmojo adalah salah satu di antara yang sedikit itu. Buku yang pertama lebih fokus pada asal-usul makhluk hidup dan asal-usul manusia; buku yang kedua ingin mendamaikan antara cerita manusia purba dan kelahiran Nabi Adam; adapun buku yang terakhir fokus pada teori out of Africa dan bagaimana komunitas manusia pertama mulai menyebar di muka bumi hingga menjadi beraneka ras.

Namun, buku-buku sejarah Islam—yang berdamai dengan sains—yang disusun dalam narasi besar sejarah dunia dari zaman pra-sejarah hingga zaman modern bisa dibilang cukup langka. Buku Firas Al-Khatheeb, The Lost Islamic History ditulis sangat bagus dengan rentang dari sekitar abad ke-6 sampai abad ke-20. Tetapi mungkin, tidak kalah menariknya buku Tamim Ansary, Dari Puncak Bagdad: Sejarah Dunia Versi Islam, ditulis dengan rentang sejak timbulnya peradaban kuno di Mesopotamia hingga abad ke-20.

Kelebihan lain dari buku Ansary adalah upayanya untuk mengganti istilah-istilah yang Eropasentris, seperti “timur tengah”. Alih-alih, ia menggantinya dengan istilah “Dunia Tengah”, sebab, ia melihat kawasan Arabia dan utaranya, di sebelah timur Mediterania, adalah kawasan yang berada di tengah-tengah antara negeri-negeri barat di sekeliling Mediterania dan negeri-negeri timur yang sambung-menyambung melalui jalur darat yang dahulu dikenal sebagai “jalur sutra”.

Buku-buku di atas menjadi motivasi bagi penulis untuk menghadirkan sebuah narasi besar sejarah dunia versi Islam yang merentang sejak penciptaan alam semesta hingga tibanya abad ke-20.

Yang ingin disampaikan dalam buku ini adalah bahwa alam semesta dan kehidupan ini tidak diciptakan melainkan semata-mata sebagai ujian bagi manusia. Langit dan bumi yang canggih ini diciptakan sedemikian rupa sebagai prasarana sehingga manusia dapat hidup dengan tenang. Sejak awal terbitnya fajar kesadaran manusia dalam kisah manusia pertama, agama Islam telah tumbuh menjadi agama manusia. Namun, setelah zaman demi zaman berlalu, monoteisme tercemar dan mulai digantikan oleh politeisme. Berhala-berhala pun mulai dipahat dan dipuja seiring dengan narasi-narasi mitologis yang terus dikembangkan. Para Nabi dan Rasul diutus sepanjang zaman, menyebar di berbagai umat, untuk meluruskan agama manusia yang sesat, sampai tibanya zaman nabi terakhir, Nabi Muhammad.

Nabi Muhammad membawa peringatan untuk kembali kepada monoteisme yang telah diajarkan sejak Adam, Nuh, Ibrahim, Musa hingga Isa. Beliau juga mengingatkan bahwa kiamat sudah dekat. Walaupun relatif masih  lama diukur dengan usia manusia tetapi relatif dekat jika diukur dari usia bumi yang sudah begitu tua.

Setelah Islam jatuh dalam peperangan yang dimenangkan oleh Barat, ada waktunya ketika Islam akan bangkit kembali.

Catatan

[1] Nurcholis Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, hal. xliii

[2] https://www.gotravelaindonesia.com/legenda-sejarah-komodo/

[3] Marvin Perry, Sejarah Peradaban Barat

[4] Wikipedia/Tiranosaurus/

[5] Lihat Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer

[6] Agus Haryosudarmojo, Perjalanan Akbar Ras Adam, hal. 4

[7] Ensiklopedi Sains Populer

[8] Nidhal Guessom, Memahami Sains Modern.

[9] QS. Al-Baqoroh

[10] QS. Al-Baqoroh: 260

[11] Nurcholis Madjid, Pintu-Pintu Menuju Tuhan

[12] Rifki Muhida, Bukti Sains Adanya Penciptaan Alam Semesta dan Kiamat, hal. 1 dan 2

[13] Rifki Muhida, Bukti Sains … hal. 2

[14] Ali Musthofa Ya’qub, Sejarah dan Metode Dakwah Nabi

[15] Karen Armstrong, Sejarah Tuhan dan Sejarah Al-Kitab

[16] Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an (Bandung: Mizan)

[17] Zakir Naik, Al-Quran and the Modern Science Compatible or Incompatible?

Dancing in the Rain

Dancing in the Rain

Menarilah di Bawah Hujan

Memetik Pelajaran dari Film Drama Korea "Doctors"

Muhamad Arie Murtaza

Doctors

Selalu ada pelajaran yang dapat kita petik dari film, termasuk drama Korea Selatan.

Ada sebuah drama Korea yang rilis pada tahun 2016 berjudul doctors, yang dibintangi oleh Kim Rae Won (sebagai Dokter Hong) dan Park Shin Hye (sebagai Dokter Hye Jung).

Film ini berkisah tentang Dokter Hye Jung yang menanggung kehidupan yang berat sejak masih sekolah: ditelantarkan oleh ayahnya, sempat pula dipenjara karena fitnah, dan terakhir, ia terpaksa hidup sebatang-kara karena nenek yang mengasuhnya meninggal di meja operasi karena mengidap tumor.

Saya tidak akan menceritakan sampai habis cerita drama yang sangat seru ini, tapi saya ingin berbagi sebuah kutipan bagus dari film ini yang dapat kita jadikan pelajaran.

Dalam salah satu momen romantis, Dokter Hong memberi nasihat kepada Dokter Hye Jun: 

“Life is not about waiting for a storm to pass, it’s learning to dance in the rain”

(Dalam hidup ini, janganlah kita menunggu badai untuk berlalu; tapi belajarlah menari di bawah hujan)

Selalu ada Masalah dalam Hidup

Dalam hidup ini selalu ada masalah. Bagaikan badai, masalah terus menggoyang hidup kita yang rapuh. Ibarat hujan, masalah terus turun tiada henti.

Ada orang yang terpaksa harus tidur di emperan toko, ada orang yang hidup dijerat hutang, ada orang yang tidak sanggup menyekolahkan anaknya, ada orang yang menderita penyakit serius, dan ada pula orang yang air matanya bercucuran karena putus cinta.

Akan tetapi, dari sekian banyak masalah, Imam Syafi’i merangkum hanya ada dua masalah yang sering muncul dalam hidup.

وَ مَا الدَّهْرُ إِلَّا هكَذَا فَاصْطَبِرْ لَهُ: رَزِيَّةُ مَالٍ أَوْ فِرَاقُ حَبِيْبٍ

Hidup ini selalu begini: Keuangan yang sulit, atau ditingal kekasih. Maka, bersabarlah …

Menyikapi Masalah

Pada saat masalah terus menimpa kita, psikologi positif mengajarkan kita untuk melihatnya sebagai energi untuk memperbaiki diri. Bagaimana caranya?

Deepak Chopra dalam The Ultimate Happiness Prescription memberikan resep dalam menghadapi masalah. Menurutnya, untuk menjadi bahagia, kita harus menafsirkan berbagai situasi masalah sebagai peluang, bukan sebagai masalah. Keuangan yang sulit mesti memacu kita untuk mengembangkan usaha yang lebih “ekonomi-kreatif”, putus cinta juga dapat membantu kita untuk menyadari “keterbudakan” kita oleh dunia ini, seperti kata Ibnu Atho’ilah dalam Al-Hikam,

مَا أَحْبَبْتَ شَيْئًا إِلَّا وَ كُنْتَ لَهُ عَبْدًا وَ هُوَ لَا يُحبُّ أَنْت تَكُوْنَ لِغَيْرِهِ عَبْدًا

Tidaklah engkau mencintai sesuatu, melainkan engkau akan menjadi budaknya. Padahal Allah tidak menyukai Engkau menjadi budak untuk yang lain

Janganlah masalah membuat kita menjadi terpuruk, apalagi berputus asa. Kita harus tetap tegak berdiri dan selalu berfikir positif.

Dengan selalu berfikir positif saat terjadi masalah, maka hidup kita akan terasa lebih bahagia. Kita selalu melihat kebaikan dalam segala hal. Kita tidak lagi melihat gelas setengah kosong, tetapi kita menganggapnya setengah terisi. 

Jangan Menunggu Badai Berlalu, Menarilah di Bawah Hujan

Pada saat kita mendapatkan masalah, janganlah berfikir “kapan masalah ini berlalu?”, “kapan Aku akan bahagia?”, “kapan ini semua akan berakhir?” Karena seringkali, Allah begitu mencintai kita sehingga terus mengirim untuk kita masalah sebagai ujian hidup.

Sampai akhir hayat, masalah akan terus berdatangan. Yang harus kita lakukan adalah terus memaknainya sebagai “ujian dari Allah”, dengan begitu, kita dapat menghadapinya dengan tersenyum.

Barangkali, inilah pesan moral dari film Doctors  yang menjadi pembukaan tulisan ini. Janganlah kita menunggu badai masalah berlalu, karena masalah tidak akan pernah berhenti mengetuk pintu kita; akan tetapi, menarilah di bawah hujan, nikmatilah masalah dengan memaknainya sebagai wujud cinta Allah kepada kita.

"Life is not about waiting for a storm to pass, it's learning to dance in the rain"
(Dalam hidup ini, janganlah kita menunggu badai untuk berlalu; tapi belajarlah menari di bawah hujan)

Dr. Hong

Referensi:

  1. Film Drama Doctors, 2016
  2. Ibnu Atho’illah, Al-Hikam
  3. Deepak Chopra, The Ultimate Happiness Prescription
Menengok Sejarah Umat Manusia versi Islam (Bagian Pertama)

Menengok Sejarah Umat Manusia versi Islam (Bagian Pertama)

Sejarah telah melalui jalan panjang, berliku-liku nan terjal sebelum sampai ke abad modern, di sini dan sekarang. Jauh di hulu sejarah umat manusia pernah berdiri sosok laki-laki pertama ciptaan Allah bernama Adam dan istrinya, Hawa. 1 Dan kini, di hilir sungai sejarah, telah hidup tujuh miliar manusia keturunan Adam2. Lalu, apakah yang terjadi di antara itu? Marilah kita tengok garis besar sejarah umat manusia!

Zaman Awal

Di antara zaman Nabi Adam dan zaman kita, terbentang masa yang sangat panjang dan sulit ditentukan secara pasti lamanya3; pada rentang panjang periode ini, anak-anak keturunan Adam hidup bermasyarakat, tumbuh menjadi desa, kota, lalu muncullah kerajaan-kerajaan.

Sepanjang hampir tujuh ratus tahun pertama, Adam masih hidup untuk membimbing anak-anak dan keturunannya. Sebagai nabi dan manusia pertama4, ia terus mengajarkan Islam kepada mereka dan mengingatkan untuk selalu waspada dari bisikan setan yang tak kasat mata tetapi nyata-nyata ada5. Bisikan “indah” setan dapat membuat manusia lalai dari perintah dan larangan Allah. 6

Setelah Adam wafat dan dimakankan di gunung Qasiyun di Damaskus7, anak-anak keturunannya telah hidup bersuku-suku dan menyebar ke banyak tempat yang menyediakan sarana kehidupan. Boleh jadi, sebagian dari mereka hijrah ke selatan, menghuni jazirah Arab yang kala itu masih ditumbuhi pohon dan dialiri sungai8; sebagian lainnya mungkin bertualang ke timur dan tinggal di kawasan sungai Efrat dan Tigris; sebagian lainnya mungkin menjelajah lebih jauh ke timur sampai menemukan sungai kuning di China.9

Ketika anak-anak keturunan Adam telah menempati berbagai tempat di bumi, mereka pun masih setia menjadi muslim yang taat, setidaknya, mereka masih bersujud kepada Allah sebagai Robb ul-‘Alamin. Ketaatan ini masih berlangsung hingga seribu tahun setelah wafatnya sang nabi Allah pertama.10 Namun, setelah periode panjang itu keadaan mulai berubah.

Zaman Berhala

Hukuman Banjir Besar

Pemujaan berhala pertama terjadi di pegunungan utara Iraq11. Sekelompok keturunan Adam masih menyembah Allah, tetapi mereka juga begitu memuliakan beberapa manusia soleh yang telah meninggal12: mereka lukis gambarnya dan mereka pahat patungnya. Pemuliaan pun berganti menjadi pemujaan. Di samping Allah, kini ada objek lain yang mereka besarkan.

Oleh karena itu, Allah memberikan wahyu kepada seorang lelaki di antara mereka untuk mengajak kaum penyembah berhala ini agar kembali kepada Islam, supaya hanya menyembah Allah saja. Nuh, nabi Allah ini, pagi dan siang memberikan peringatan kepada mereka. Mirisnya, selama empat ratus lima puluh tahun, hanya segelintir orang yang beriman kepadanya. 13

Pemujaan kini merebak hampir di semua desa dan kota di Iraq dan melebar ke Syiria. Karena tidak ada harapan, akhirnya Nuh memohon kepada Allah agar membinasakan kaum durhaka ini, maka Allah pun menjawab doanya. Allah menumpahkan air deras dari langit dan mengeluarkan air deras dari perut bumi14. Banjir besar meliputi seluruh kawasan Iraq dan sekitarnya15, sementara Nuh, keluarganya, dan pengikutnya selamat karena mereka telah membangun sebuah bahtera yang telah disiapkan jauh sebelum peristiwa banjir itu terjadi16.

Persebaran Anak Keturunan Adam

Setelah peristiwa Banjir Besar itu, populasi manusia di Arabia utara, mungkin, berkurang akan tetapi di kawasan-kawasan lain kehidupan terus berlanjut. Sebagian keturunan Adam di utara China bertahan hidup sebagai pengembara sementara sebagian lainnya di selatan telah membangun desa-desa dan kota-kota.17

Adapun di kawasan Arabia yang sedang kita bicarakan, anak-anak Nuh hidup cukup lama. Setelah ratusan tahun lamanya, anak keturunan Sam putra Nuh banyak bermukim di Syiria utara lalu mendirikan daulah Fadan Aram18 yang membuat mereka nanti dikenal sebagai bangsa Aram19 dan bangsa Funisia20, sementara sebagian lainnya berjuang kembali menghidupkan lembah Efrat dan Tigris. Kelak mereka akan dikenal sebagai orang-orang Akkadia dan Babilonia. 21

Sementara itu, anak-anak Ham putra Nuh hijrah lebih jauh ke Mesir22. Mereka bercocok tanam dengan memanfaatkan sungai nil yang mengalir dari selatan ke utara23. Dalam waktu yang panjang, lembah-lembah di sepanjang sungai tersebut telah dihuni oleh anak-anak Ham putra Nuh. Mereka membangun desa-desa dan kota-kota. Di kemudian hari mereka dikenal sebagai bangsa Qibti yang nanti akan membangun dinasti-dinasti Mesir kuno. 24

Adapun keturunan Yafeth putra Nuh lebih banyak menyebar di belahan bumi utara dan di kemudian hari kita akan mengenal keturunannya sebagai bangsa-bangsa petualang: bangsa Arya yang akan mendirikan dinasti-dinasti syah Iran dan menginvasi benua India; bangsa Skitia, Turki, Slavia, Yunani, Goth, Jerman, dan Jut—yang semuanya disebut Ya’juj dan Ma’juj dalam ejaan Arab25—yang nanti akan menguasai semenanjung balkan, mendominasi kepulauan Yunani, merajai semenanjung Iberia dan menaklukkan kepulauan di Inggris.

Sekarang, bumi sudah tampak lebih ramai. Sebagian anak-anak keturunan Adam telah mengisi belahan-belahan bumi yang subur dan mendirikan kota-kota dan kerajaan-kerajaan, menyerahkan kebebasan mereka untuk menjadi tawanan hidup sebagai masyarakat yang dipenuhi norma-norma, walaupun sebagian kecil lainnya lebih memilih hidup bebas sebagai pengembara di gurun dan di padang rumput yang liar.26

Kala ini, anak-anak keturunan Adam masih menyembah Allah sampai pada suatu titik waktu setitik racun setan disusupkan dan merusak keimanan di seluruh masyarakat. Kebanyakan manusia di kemudian hari menyembah berhala, ketua-ketua suku dan raja-raja mendirikan kuil-kuil untuk berhala. Maka setiap anak yang lahir pun “tertawan” dalam lingkungan berhala. Dimulailah zaman kerajaan berhala …

Bersambung ke Bagian Kedua …

Catatan

  1. Penelitian mutakhir mengenai asal-usul manusia menggunakan metode tracing DNA yang menghasilkan kesimpulan bahwa tujuh miliar manusia saat ini berasal dari satu DNA wanita yang hidup di Afrika sekitar seratus ribu tahun yang lalu. Lihat Steve Olson, Mapping Human History. Penelitian ini sejajar dengan informasi Al-Qur’an yang menyatakan bahwa seluruh umat manusia berasal dari “laki-laki dan perempuan”, yakni Adam dan Hawa, lalu setelah itu Allah jadikan keturunannya bersuku-berbangsa yang tujuannya adalah untuk saling mengenal. Pada ujung ayat surat Al-Hujrat ayat 13 itu dikatakan: “sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling taqwa atau takut kepada Allah.” Sampai di sini, tidak ada perselisihan antara Al-Qur’an dan sains modern. Kita baru mulai berselisih ketika berbicara tentang eksistensi manusia purba. Insya Allah saya akan menguraikannya pada artikel tersendiri.
  2. Jumlah penduduk dunia pada 2020 telah mencapai 7,7 miliar. Lihat https://www.kompas.com/skola/read/2020/07/11/140300869/jumlah-penduduk-dunia-2020
  3. Belum ada kata sepakat mengenai waktu kemunculan manusia pertama. Menurut Bible, Nabi Adam hidup sekitar 4000 atau 5000 tahun yang lalu (lihat Maurice Bucaile, Bible, Al-Qur’an dan Sains Modern). Pendapat ini juga dinyatakan dalam buku Atlas Sejarah Nabi dan Rasul, Sami al-Maghluts menjelaskan, Adam diperkirakan hidup tahun 5872-4942 Sebelum Masehi (SM). Sedangkan, Nabi Nuh diperkirakan hidup sekitar tahun 3993-3043 SM (usia 950 tahun). Adapun Daily Mail menyatakan bahwa manusia pertama menjejakkan kakinya di bumi 209.000 tahun yang lalu. Namun, artikel lain, Nature World News menyatakan, berdasarkan penelitian genetika, diketahui Kromosom Y (laki-laki) dari Adam atau yang disebut Y-MRCA telah ada manusia modern di bumi ini sejak 237 ribu hingga 581 ribu tahun yang lalu. Lihat laporan Rosita Budi Suryaningsih dalam:https://republika.co.id/berita/n4j49z/kisah-nabi-adam-as-peletak-peradaban-di-bumi-2 . Akan tetapi sejarahwan Arnold Toynbee mengikuti umumnya sejarahwan yang mengatakan bahwa homo sapiens baru muncul pada 10.000 tahun yang lalu.
  4. Dalam sebuah hadits dinyatakan, ada seseorang bertanya, “Ya, Rasulullah, apakah Adam seorang nabi?” Rasul SAW menjawab, “Ya, nabi yang diberikan wahyu.” Orang itu kembali bertanya, “Berapa lama rentang waktu antara Adam dan Nuh?” Nabi SAW menjawab, “Sepuluh abad.” (HR Muslim).
  5. Dalam Al-Qur’an disebutkan “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh nyata bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” (QS. Fâthir/35:6)
  6. Iblis bersumpah di hadapan Allah pada hari ketika ia dilaknat: “Demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlash (QS. Shâd/38: 82-83)
  7. Lihat https://republika.co.id/berita/q825pp320/berapakah-usia-nabi-adam-selama-hidup-di-dunia adapula keterangan yang menyebutkan Nama lain seperti di Jabal Abu Qubaisy di wilayah yang sama.
  8. Sebuah hadits tentang hari kiamat berbunyi sebagai berikut: “Tidak akan tiba hari Kiamat hingga tanah Arab kembali hijau penuh dengan tumbuhan dan sungai-sungai.” (HR. Muslim). Kata “kembali” dalam hadits tersebut menyiratkan bahwa pada tanah Arab pada awalnya ditumbuhi tanaman dan dialiri sungai-sungai.
  9. Hipotesis bahwa komunitas pertama di China terbentuk pada zaman awal manusia saya bangun dengan argumen bahwa China merupakan salah satu peradaban tertua di dunia. Catatan sejarah mengatakan, dinasti Xia di China telah berdiri sejak dua ribu tahun sebelum masehi. Sebelum menjadi dinasti, tentu China telah melalui proses panjang pembentukan suku-suku awal, desa-desa, dan kota-kota. Selain itu, bahasa China yang tergolong ke dalam rumpun bahasa Sino-Tibet juga cukup berbeda dari bahasa-bahasa lain di dunia. Jika kita menduga bahwa mereka baru mendiami wilayah China di zaman kuno yang sejajar dengan timbulnya Mesir Kuno atau Sumeria, maka mestinya kita dapat menemukan adanya kesamaan tertentu dalam aspek bahasa. Namun pada nyatanya, bahasa Iraq pada kala itu lebih cenderung semitik dan serumpun dengan bahasa ‘Arab. Lihat Philip Hitti, History of the Arabs. Adapun bahasa China cenderung lebih unik sehingga kita dapat menduga bahwa komunitas awal yang mendiami China telah memisahkan diri sejak zaman awal manusia. Lihat juga artikel wikipedia yang mengatakan bahwa zaman neolitik China dimulai pada sekitar  10.000 s.M. https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Tiongkok
  10. Nabi Adam pernah menghibahkan usianya kepada Nabi Daud, karena usianya 1000 tahun akan tetapi Daud hanya diberikan empat puluh tahun (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah)
  11. Lihat buku Ibrahim Bapak Semua Agama terbitan Lentera Hati.
  12. Nama-nama orang Soleh tersebut diabadikan dalam surat Nuh, antara lain Wadd, Suwa, Yaghuts, Ya’uq, Nasr. Bacalah dan Hayati keseluruhan Surat Nuh yang menceritakan garis besar sejarah Nabi Nuh.
  13. Ibnu Katsir, dalam Qashash ul Anbiya
  14. Baca surat Nuh.
  15. Menurut Bible, Banjir Besar meliputi seluruh bumi. Akan tetapi, Maurice Bucaile melihat bahwa Al-Qur’an tidak secara eksplisit mengatakan hal yang sama, walaupun dikatakan bahwa Nabi Nuh diminta untuk membawa sepasang-sepasang hewan. Selain itu, juga tidak terdapat catatan dalam sejarah geologi yang menyebutkan bahwa di bumi pernah terjadi banjir yang menutup seluruh bumi. Oleh karena itu, lebih kuat dugaan bahwa banjir pada era Nabi Nuh lebih merupakan banjir kawasan, bukan banjir global. Lihat Maurice Bucaile, Bible, Al-Qur’an dan Sains Modern.
  16. Lihat QS. Asy-Syuro 119
  17. Lihat catatan no.9
  18. Lihat Ibrahim Bapak Semua Agama
  19. Bahasa Aram, salah satu bahasa Syamiyah/semitik, adalah bahasa tua yang serumpun dengan bahasa Ibrani dan Arab. Nabi Isa berbicara dalam bahasa ini. Lihat Philip Hitti, History of the Arabs.
  20. Funisia adalah orang-orang Aram yang terkenal dalam sejarah sebagai pelaut di Laut Tengah. Mereka membuat kapal-kapal besar untuk berhubungan dengan komunitas-komunitas manusia yang tinggal di sekeliling laut besar itu. Lihat Arnold Toynbee, Sejarah Umat Manusia. Bagi pecinta komik, baca komik Sejarah Peradaban karya Larry Gonnick jilid I.
  21. Orang-orang Akkadia dan Babilonia adalah kelompok manusia dari keturunan Syam. Lihat Philip Hitti, History of the Arabs.
  22. Taurat Ibrani
  23. Agak unik, sungai Nil tidak mengalir dari utara ke selatan, tetapi sebaliknya. Lihat Google Earth.
  24. Dinasti Mesir Kuno merupakan salah satu dinasti tertua di dunia. Seperti dinasti di China kuno yang telah kita bicarakan di atas, sebelum terbentuknya dinasti, Mesir pun telah melalui proses yang panjang melewati pembentukan desa-desa dan kota-kota.
  25. Penelitian Wisnu Sasongko dalam buku Ya’juj dan Ma’juj cukup menarik untuk dibaca.
  26. Dalam wacana filsafat sosial, masyarakat bersifat “memaksa”, atau dalam bahasa lain, “memenjarakan”: masyarakat yang baik akan membentuk individu yang baik dan sebaliknya, masyarakat yang buruk akan menciptakan individu yang juga buruk. Karena masyarakat, apalagi pada zaman agrikultural, bersifat normatif. Ada norma-norma sosial yang harus dipatuhi oleh individu dan salah satunya berkaitan dengan agama. Individu yang tidak mengikuti sistem agama yang dianut oleh mayoritas akan dicemooh bahkan dikucilkan. Inilah mengapa saya katakan, ketika manusia pada zaman awal mulai membentuk masyarakat, hidup menetap dalam desa-desa, maka ia menyerahkan kebebasannya untuk “terpenjara” dalam masyarakat.
Cara Membuat PowerPoint Interaktif

Cara Membuat PowerPoint Interaktif

Biasanya kita menggunakan powerpoint untuk presentasi, tetapi sebetulnya, ada suatu teknik untuk membuat powerpoint lebih dari sekadar alat presentasi. Dengan suatu setting sederhana, kita bisa membuat powerpoint menjadi alat untuk belajar siswa. Kunci dari pembuatan powerpoint interaktif ini adalah settingan pada slide show dan  pada tipe penyimpanan file powerpoint yang kita buat. Bagaimanakah caranya membuat powerpoint interaktif? Yuk, saksikan video berikut ini!

Ini bagian pertamanya:

Lalu, lanjut ke bagian kedua ya.

Setelah bagian kedua ini ditonton, silakan lanjut ke bagian ketiga ini:

Jika bagian ketiga selesai, maka kamu harus lanjut menonton bagian keempat.

Ini bagian terakhirnya.

Nah, itulah cara membuat powerpoint interaktif. Dengan ketekunan, semangat, dan tekad yang kuat, kamu pasti bisa membuatnya. Selamat mencoba ya!

Penciptaan Alam Semesta Menurut Al-Qur’an

Penciptaan Alam Semesta Menurut Al-Qur’an

Penciptaan Alam Semesta Menurut Al-Qur'an dan Sains

Menurut sains, waktu dimulai ketika sebuah ledakkan yang sangat besar terjadi. Saat itu belum ada manusia, bumi, gunung dan bintang-bintang. Tapi sejak ledakkan itu, semuanya mulai terbentuk.

Ledakan purba yang dikenal dengan istilah big bang atau dentuman besar itu, dirasakan oleh banyak ilmuwan muslim, sesuai dengan isyarat Al-Qur’an yang menyatakan bahwa langit dan bumi pada awalnya bersatu-padu, lalu Allah memisahkan keduanya. Perhatikanlah ayat berikut ini:

أَوَ لَمۡ يَرَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَنَّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ كَانَتَا رَتۡقٗا فَفَتَقۡنَٰهُمَاۖ وَجَعَلۡنَا مِنَ ٱلۡمَآءِ كُلَّ شَيۡءٍ حَيٍّۚ أَفَلَا يُؤۡمِنُونَ 

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman

(Al-Qur’an, Al-Anbiya: 30)

Sekarang, marilah kita ikuti episode-episode terjadinya alam semesta!

Episode 1 (Dentuman Besar)

Sebelum alam semesta ini tercipta, tidak ada apapun, kecuali Allah, sebab Allah menyatakan–dalam Al-Qur’an–bahwa diri-Nya adalah Al-Awwal, yang artinya “Yang Maha Pertama”.

Setelah itu, menurut sains adalah empat belas miliar tahun yang lalu, muncul energi besar yang sebenarnya merupakan alam semesta yang masih dipadatkan dalam satu titik, yang, dalam bahasa astrofisikawan Amerika, Neil de Grasse Tyson, “lebih kecil daripada satu per setriliun ukuran tanda titik yang mengakhiri kalimat ini”.

Kemudian, energi besar itu meledak: Bumm! Sebuah dentuman besar (Big Bang) menggelegar. Segalanya mulai bergerak, maka dimulailah waktu.

Episode 2 (Era Planck)

Setelah ledakan besar tadi melewati satu per-satu juta triliun-triliun-triliun detik, yang disebut “Era Planck” (dari nama fisikawan Jerman penemu mekanika kuantum, Max Plank), gravitasi mulai bekerja. Elemen-elemen super panas yang berhamburan ke segala penjuru itu mulai saling menarik.

Episode 3 (Sebelum 1 Detik Pasca-Dentuman Besar)

Sebelum genap satu detik, sesudah gravitasi bekerja, yang artinya atom-atom purba pun sudah terbentuk dalam hamburan ledakan besar tadi, kini dua gaya dasar lainnya mulai bekerja.

Gaya inti lemah meluruhkan materi radioaktif, gaya inti kuat menyatukan inti atom, gaya elektromagnetik mengikat molekul, dan gravitasi, yang sudah bekerja lebih awal, menarik benda-benda besar.

Selain itu, pada masa ini telah muncul kuark, lepton (elektron dan neutron), dan pasangan anti-zatnya, serta juga boson.

Semua elemen yang kita kenal tersebut, sebelum satu detik pertama, masih dalam keadaan rapat dan panas bagaikan wortel dan brokoli yang dimasak dalam sup raksasa, akan tetapi kemudian, suhunya menurun dengan cepat di bawah satu triliun derajat kelvin, mendingin, lalu alam semesta kita pun mengembang.

Ketika panas jagat raya menurun, sebelum satu detik pertama, muncullah keluarga atom berat baru yang disebut hadron, dan pasangannya, anti-hadron, yang saling memusnahkan.

Dari setiap satu miliar pemusnahan, tersisa satu hadron dan hadron-hadron sendirian itu akhirnya menjadi sumber atom yang akan membentuk galaksi, bintang, planet, dan bunga.

Episode 4 (Setelah 1 Detik Pertama Pasca Dentuman Besar)

Setelah berlalu satu detik pertama, alam semesta kita masih selebar jarak dari matahari sampai kepada bintang-bintang tetangga terdekat.

Kala itu, suhu semesta satu miliar derajat kelvin sehingga masih bisa “memasak” elektron yang terus muncul dan lenyap bersama positron, pasangannya. Dari setiap satu miliar elektron dan positron, tersisa satu elektron, serasa mirip dengan “pertarungan” antara hadron dan anti-hadron yang telah kita ceritakan sebelumnya.

Akhirnya, pada periode ini, setiap satu elektron bergabung dengan satu proton yang telah berfusi dengan proton lain, serta dengan neutron, lalu membentuk inti atom yang sebentar lagi akan menyusun alam semesta.

Kini, alam semesta yang sedang mengembang, tampak berupa lautan pasangan proton-elektron yang kita sebut “hidrogen” serta pasangan double-proton dan double-elektron yang kita namakan “helium”. Sembilan puluh persen jagat raya kala itu merupakan hidrogen, lalu sepuluh persennya adalah helium, dan sisanya, sedikit deuterium, tritium, dan lithium.

Baru dua menit berlalu pasca dentuman besar.

Episode 5 (380.000 tahun Pasca Dentuman Besar)

Setelah periode “lautan hidrogen” yang panjang, suhu alam semesta turun ke titik 3000 derajat kelvin, yang kira-kira merupakan setengah dari suhu  matahari kita saat ini, sehingga menyebabkan semua elektron bebas di jagat raya bergabung ke dalam inti atom yang ada.

Episode 6 (1 Miliar Tahun Pasca Dentuman Besar)

Setelah melalui masa yang panjang, pemandangan alam semesta, yang kini kita sebut langit, berubah. Setiap dua atom hidrogen melebur atau berfusi yang kemudian menghasilkan cahaya panas yang sangat terang serta mengandung zat-zat baru seperti karbon, besi, oksigen, dan lain-lain.

Maka bayangkanlah jika setiap atom hidrogen terus bertumbukan dan menciptakan helium yang panas terang, apakah yang akan terjadi? Benar! langit akan penuh dengan lautan sinar di mana-mana!

Akan tetapi, kala itu tidak muncul lautan sinar di mana-mana! sebab makhluq Allah yang lain, gravitasi, juga bekerja, mereka menarik lautan sinar itu ke titik-titik gravitasi yang berjauhan sehingga di setiap titik gavitasi terbentuklah bola api-bola api raksasa yang kini kita sebut bintang. Kemudian, setiap seratus miliar bintang ditarik oleh “gravitasi yang lain” dan membentuk kelompok “galaksi”. Lalu, setiap seratus miliar galaksi pun berkumpul membentuk “cluster” dan setiap seratus miliar cluster berhimpun membentuk “super cluster”.

Supernova

Dalam beberapa kejadian, hidrogen dan helium pada suatu bintang menjadi terlalu panas sehingga mengakibatkan terjadinya ledakkan bintang—yang berefek pada terbentuknya unsur-unsur berat seperti emas atau uranium. Ledakkan ini disebut  supernova.

Pasca supernova terjadi, muncullah lubang hitam, black hole.  Thomas DJamaluddin, profesor Astronomi-Astrofisika LAPAN menjelaskan:

Lubang hitam bisa terbentuk dari inti bintang raksasa yang meledak sebagai supernova. Bagian luar bintang terlihat hancur berhamburan ke luar, tetapi intinya memadat ke dalam. Jika diumpamakan, kepadatan Lubang Hitam sama dengan bola matahari, yang berdiameter 1,4 juta km (109 kali diameter bumi) dan bermassa 2 miliar miliar miliar (dengan 27 angka nol) ton, dimampatkan hingga diameternya hanya 3 km.

Tasbih Alam Semesta

Segala hal di alam semesta, pasca dentuman besar, bergerak mengelilingi suatu pusat, mirip dengan model thawaf jama’ah haji mengelilingi ka’bah.

Dalam skala molekuler, elektron mengelilingi proton pada inti atom, dalam gerak yang polanya sampai saat ini belum dapat kita baca.

Dalam skala yang lebih besar, pecahan-pecahan yang terhempas dari bintang-bintang mendingin lalu menjadi planet-planet yang juga melakukan gerak thawaf mengelilingi bintang tersebut, seperti planet bumi dan tujuh planet lainnya, berthawaf mengelilingi matahari.

Selain itu bintang-bintang di alam semesta pun  berthawaf mengelilingi pusat galaksi, dan setiap seratus miliar galaksi juga berthawaf mengelilingi pusat cluster, lalu seratus miliar cluster berthawaf mengelilingi pusat super cluster.

Penjelasan mengenai fenomena ini diterangkan dalam Al-Qur’an, antara lain dalam surat At-Taghobun ayat 1:

يُسَبِّحُ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُۖ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Bertasbih kepada Allah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi, Dia (Allah) Milik-Nya segala kekuasaan dan milik-Nya segala pujian. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu

(Al-Qur’an, At-Taghobun: 1)

ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ وَهِيَ دُخَانٞ فَقَالَ لَهَا وَلِلۡأَرۡضِ ٱئۡتِيَا طَوۡعًا أَوۡ كَرۡهٗا قَالَتَآ أَتَيۡنَا طَآئِعِينَ 

Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”

(Al-Qur’an, Fushilat: 11)

Demikianlah episode-episode penciptaan alam semesta sebagaimana dituturkan oleh sains dan Al-Qur’an yang hendaknya semakin menyadarkan kita akan kekuasaan dan pemeliharaan Allah atas alam semesta.

Kita menolak ide-ide materialistik yang mengatakan bahwa alam semesta ini bekerja sendiri, tanpa campur tangan Tuhan.

Selain itu, kita juga menolak ide yang mengatakan bahwa Tuhan menciptakan alam semesta lalu setelah itu beristirahat, karena mesin semesta kemudian bekerja otomatis seperti mesin jam.

Sebagai muslim, kita yakin dan percaya bahwa Allah merupakan al-Khaliq, Maha Pencipta dan robbul ‘alamin, Maha Pemelihara Alam Semesta.

Sumber Bacaan

  1. Agus Mustofa, Segalanya Satu
  2. Arifin Muftie, Pemerintahan Tuhan
  3. Carl Sagan, Kosmos
  4. Neil De Grasse Tyson, Astrofisika bagi Orang Sibuk
  5. Thomas Djamaluddin, Semesta pun Berthawaf
Gerhana Matahari dalam Pandangan Islam

Gerhana Matahari dalam Pandangan Islam

Gerhana dalam Pandangan Islam

Oleh Muhamad Arie Murtaza

Misteri Alam

Jika kita belajar sejarah agama dari ilmuwan-ilmuwan Eropa dan Amerika, mereka akan mengatakan kepada kita bahwa pada awalnya, manusia tidak mengerti tentang makna kehidupan dunia ini. Mengapa mereka lahir, hidup, lalu mati? Mengapa harus ada banjir yang menenggelamkan desa mereka? Mengapa harus ada badai yang membinasakan orang di sekitar mereka? Singkat kata, bagi manusia pada zaman dahulu, alam ini merupakan misteri.

Akan tetapi, walaupun demikian, mereka menyadari bahwa beberapa unsur alam tampak lebih berpengaruh terhadap kehidupan mereka, seperti matahari, bulan, atau air. Tanpa matahari, pohon-pohon menjadi layu, tanpa bulan, malam menjadi gelap gulita, dan tanpa air, manusia mati kehausan.

Sejak saat itu, mereka  mulai merasa kagum sekaligus takut di hadapan alam, lalu mulailah menciptakan” tuhan. Secara perlahan-lahan, misteri alam pun berganti menjadi agama.

Kultus Matahari

Namun demikian, di antara unsur-unsur alam yang disembah, matahari adalah yang paling populer. Manusia pada masa lalu menganggap, matahari merupakan unsur alam yang paling perkasa, powerful, di antara unsur alam yang lain.

Oleh karena itu, jika kita mencermati isi buku-buku sejarah dunia pada masa lalu, kita akan menemukan bahwa kultus penyembahan matahari menjadi agama bagi semua masyarakat kuno. Bangsa Mesir kuno menyembah matahari, mereka menyebutnya Ra; Bangsa India kuno juga menyembahnya dan menyebutnya Mith-Ra; bangsa Arab memanggilnya Syams, bangsa Jepang menyebutnya Amaterasu (yang kini masih menjadi simbol dalam bendera nasionalnya), dan bangsa Yunani memanggilnya Apollo.

Gerhana Matahari bagi Masyarakat Kuno

Akan tetapi, walaupun orang-orang kuno menganggap matahari perkasa, mereka pun menyaksikan fenomena ketika matahari menggelap dan kehilangan cahayanya, mereka melihat tuhan yang mereka sembah tidak lagi bersinar. Bangsa Arab menyebut fenomena itu kusuf, orang Yunani kuno menyebutnya ekleipsis, dan orang Jawa kuno menyebutnya gerhana.

Istilah-istilah untuk menyebut fenomena gerhana di atas sebetulnya menunjukkan pemahaman terhadap gerhana. Kata kusuf yang berarti “menutup” menunjukkan bahwa bangsa Arab cenderung melihat fenomena ini secara teknis bahwa sesuatu menutupi matahari.

Berbeda dari orang Arab, sebagian bangsa pada masa lalu melukiskan fenomena ini secara metaforis. Bagi orang Viking, gerhana adalah peristiwa ketika serigala memakan matahari; orang Korea meyakini katak yang memakannya, bukan serigala; dan orang India kuno pun percaya bahwa Iblis Rahu sedang mengirim makhluk berkepala-tanpa tubuh untuk memakan matahari.

Sejalan dengan mayoritas keyakinan di atas, sejak waktu yang sangat lampau, orang Jawa pun meyakini adanya roh jahat saat terjadi gerhana. Mungkin berkali-kali orang mengalami kelainan fisik atau kerusakan mental saat terjadi gerhana sehingga kasus-kasus tersebut terpaksa membuat mereka percaya bahwa terdapat roh jahat saat terjadi gerhana.

Gerhana Matahari Menurut Sains Modern

Namun demikian, keyakinan kuno mengenai gerhana seperti yang kita bicarakan di atas mulai ditinggalkan orang sejak zaman modern. Bangsa Eropa sejak tahun 1400 Masehi (yang dianggap sebagai awal Era Modern) mengajarkan kita untuk memandang benda-benda langit, termasuk matahari, sebagai fenomena alam biasa, tidak ada kaitannya dengan tuhan, dewa, ataupun roh jahat. Lalu, dua ratus tahun kemudian, mereka mulai menjelaskan peristiwa gerhana secara saintifik.

Menurut Astronomi, ilmu atau sains yang menjelaskan tentang fenomena langit, gerhana matahari adalah peristiwa ketika matahari tertutup oleh bulan. Namun demikian, ada perbedaan mengenai bagaimana ketertutupan itu terjadi.

1. Gerhana Matahari Total

Bagi sebagian penduduk bumi, matahari benar-benar tertutup saat terjadi gerhana, karena, pada saat itu, posisi bulan lebih dekat ke mata pengamat sehingga “piringan” bulan tampak lebih besar daripada “piringan” matahari. Fenomena ini disebut “gerhana matahari total.”

Selain itu, posisi pengamat yang berada dalam satu garis lurus dengan bulan dan matahari juga mempengaruhi terjadinya fenomena gerhana jenis ini.

2. Gerhana Matahari Sebagian

Namun demikian, dalam sudut pandang sebagian penduduk bumi yang lain, “piringan” bulan hanya menutupi sebagian dari “piringan” matahari sehingga matahari tampak sebelah gelap dan sebelah terang. Penyebabnya adalah, kala itu, dari sudut pandang pengamat, bulan tidak berada dalam satu garis lurus di antara bumi dan matahari. Fenomena ini disebut “gerhana matahari sebagian.”

Untuk memahami perbedaan antara gerhana matahari total dan gerhana matahari sebagian, perhatikanlah gambar di bawah ini!

Posisi bulan dalam gerhana matahari total dan gerhana matahari sebagian

3. Gerhana Matahari Cincin

Selain itu, ketika bulan relatif menjauh dari sudut pandang pengamat sehingga “piringan”nya tampak lebih kecil daripada “piringan” matahari, menampakkan ke mata pengamat lingkaran gelap “piringan” bulan di bagian tengah dan menyisakan cincin bersinar yang merupakan area matahari yang tidak tertutup bulan, maka fenomena itupun menunjukkan jenis lain dari gerhana matahari sebagian yang oleh sebagian besar orang disebut “gerahan matahari cincin”.

Penampakan gerhana matahari total (kiri), gerhana matahari sebagian (tengah), dan gerhana matahari cincin (kanan)

Gerhana Matahari Menurut Islam

Islam mendukung pandangan sains modern bahwa matahari bukanlah tuhan atau dewa yang memberikan kehidupan; matahari hanyalah satu dari benda-benda langit yang bergerak pada garis edar masing-masing.

Namun demikian, Islam tidak sependapat dengan sains modern yang menganggap benda-benda langit bekerja dengan sendirinya, baik terhadap pandangan sains yang meyakini “Tuhan menciptakan alam lalu beristirahat (karena mesin alam bekerja sendiri setelah diciptakan)”, apalagi dengan pandangan sains yang meyakini bahwa di alam semesta ini hanya ada materi yang bekerja dengan sendirinya, tidak ada Tuhan” (materialisme).

Menurut Islam, Allah menciptakan alam dan terus bekerja-aktif untuk memeliharanya, Allah bukan hanya Al-Khaliq, Yang Menciptakan Alam, tetapi juga Robbul ‘Alamin, Pemelihara Seluruh Alam.

Oleh karena itu, Islam mengajarkan kepada kita bahwa segala fenomena alam merupakan bukti, tanda, atau ayat keberadaan dan kebesaran Allah. Sepotong hadits dari Syeikh Bukhari menyebutkan:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ

“Sesungguhnya, matahari dan bulan adalah dua tanda dari banyak tanda-tanda kekuasaan Allah”

(HR. Bukhari No. 1044)

Apa yang Kita Lakukan Bila Terjadi Gerhana Matahari?

Karena kita meyakini bahwa gerhana matahari merupakan tanda kekuasaan Allah, maka ketika terjadi gerhana matahari, Islam menganjurkan kita untuk berdzikir, menyebut nama Allah, dengan mendirikan shalat sunnah dua raka’at, yang disebut dengan shalat kusuf atau shalat gerhana matahari. Nabi Muhammad mengatakan:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى يَنْجَلِىَ

”Matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Kedua gerhana tersebut tidak terjadi karena kematian atau lahirnya seseorang. Jika kalian melihat keduanya, berdo’alah pada Allah, lalu shalatlah hingga gerhana tersebut hilang (berakhir).” 

(HR. Bukhari no. 1060 dan Muslim no. 904)

Sebagian kecil ulama, yakni Abu Hanifah dan Malik, mewajibkan pelaksanaan shalat ini, yakni dengan sebanyak dua raka’at seperti shalat sunnah biasa dan boleh dilakukan sendiri. Akan tetapi, mayoritas ulama menyatakan hukum melaksanakan shalat ini adalah sunnah mu’akkad, dilaksanakan secara berjama’ah sebanyak dua raka’at dengan menambahkan sekali ruku’ pada masing-masing raka’at.

Adapun mengenai khutbah pasca-shalat gerhana, sebagian ulama menganjurkan, sebagian tidak, dan sebagian hanya menganjurkan untuk memberi nasihat, tidak dalam bentuk formal seperti khutbah.

Demikianlah penjelasan tentang gerhana matahari, yang, mudah-mudahan, dapat memberikan pencerahan pada kita semua yang pada hari ini, tanggal 21 Juni 2020, akan menyaksikan terjadinya gerhana matahari, walaupun gerhana yang kita saksikan merupakan gerhana matahari sebagian.

error: Content is protected !!