Asal-Usul Alam Semesta

Asal Usul Alam Semesta

Ketika para pemuda Reykjavic (ibu kota Islandia) disurvei pada 2016 lalu, ditemukan hal mengejutkan: setengah dari pemuda-pemuda tersebut percaya bahwa dunia ini diciptakan oleh big bang, bukan oleh Tuhan…

By MISTERARIE

Hadits dan Qadim

Sains modern tidak mempunyai gambaran yang pasti mengenai keadaan sebelum terciptanya jagat raya. Filsafat pun demikian. Immanuel Kant menyerah. Di dalam Critique of Pure Reason yang terbit pada 1781, filsuf Jerman ini mengatakan bahwa pandangan “jagat raya yang pernah bermula” dan “jagat raya yang tidak berawal dan tidak berakhir” memiliki argumen yang sama kuatnya. “… jika jagat raya tidak mempunyai awal, akan ada kurun waktu yang tak terhingga panjangnya sebelum peristiwa apa saja … Jika jagat raya mempunyai awal maka ada kurun waktu yang tak terhingga panjangnya sebelum awal itu, maka mengapa jagat raya harus mulai pada suatu waktu tertentu …” [1]

Topik “kekekalan alam atau penciptaan alam” sebetulnya telah diperbincangkan oleh para filsuf muslim sembilan ratus tahun sebelum Kant. Dalam disiplin ilmu sejarah kebudayaan Islam, kekekalan alam disebut “qodim” (secara literal artinya “lama”) dan penciptaan alam disebut “hadits” (secara literal artinya “baru”). “Misalkan sebuah pohon yang telah hidup berjuta-juta tahun”, kata Murtadha Muthahari. “Dalam pengertian yang lazim, dikatakan pohon itu sudah berusia lama, bahkan sangat lama, tetapi menurut terminologi filsafat dan kalam[2], pohon tersebut tergolong sebagai sesuatu yang hadits (baru) karena pada suatu masa jutaan tahun yang lalu ia pernah tidak ada.”[3]

“Dalam pengertian yang lazim, dikatakan pohon itu sudah berusia lama, bahkan sangat lama, tetapi menurut terminologi filsafat dan kalam, pohon tersebut tergolong sebagai sesuatu yang hadits (baru) karena pada suatu masa jutaan tahun yang lalu ia pernah tidak ada.”

(Muthahari)

Para Filsuf dan Teosof yang Pro-Keabadian Alam

Ibnu Sina adalah di antara para filsuf yang meyakini bahwa alam ini mestinya abadi, qadim, bersama dengan abadinya Allah. Menurut mereka, mustahil yang Hadits muncul dari yang Qodim. Ini agak rumit, tapi bayangkanlah begini. Sebelum adanya segala sesuatu hanya ada Allah, zat yang Qodim, kekal abadi. Kemudian, Allah berkehendak. Muncul kehendak, irodah, di sini. Artinya, kehendak Allah ini sebelumnya tidak ada, lalu tiba-tiba menjadi ada. Berarti Kehendak Allah ini mempunyai permulaan. Tetapi masalahnya, tidak ada yang “mempunyai permulaan” kecuali dia itu hadits, baru, diciptakan. Apakah mungkin Allah yang kekal abadi berubah menjadi makhluq—ciptaan—yang hadits karena memulai suatu kehendak?[4] Oleh karena itu, para filsuf menyimpulkan bahwa Allah, kehendak-Nya, dan alam semesta ini, mungkin telah ada secara bersama-sama dan akan senantiasa abadi.

Pandangan yang terdengar menghujat ini—karena memproklamasikan adanya sesuatu lain yang kekal selain Allah—mendapat kritik tajam dari seorang ulama, Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali. Melalui bukunya, Tahafut al-Falasifah, yang berarti “Kerancuan Filsafat”, Al-Ghazali menyatakan bahwa apabila semua sebab dan syarat telah berkumpul: Allah yang mempunyai kehendak sudah Ada; kehendak-Nya juga sudah Ada; maka justru mustahil alam ini tidak dapat diciptakan.[5] Dalam buku tersebut, Al-Ghazali tidak menggunakan dalil Al-Qur’an atau Hadits untuk membantah gagasan-gagasan para filsuf tetapi menggunakan logika dan akal. Tidak seperti Gereja abad pertengahan yang membakar buku-buku yang dianggap bid’ah atau menangkap penulis-penulis yang tidak sefaham dengan Bible, Al-Ghazali menghadapi gagasan dengan gagasan. Menangkis filsafat dengan filsafat, inilah gayanya Al-Ghazali.

Pada umumnya, di dunia Islam saat ini, gagasan mengenai kekekalan alam merupakan minoritas. Gagasan ini hanya didiskusikan oleh golongan muslim liberal—yang sedang menghidupkan-kembali (revive) tradisi filsafat Islam—dan oleh golongan muslim Syi’ah—yang memang sejak dahulu menjadikan filsafat dan tasawuf atau ‘irfan sebagai bidang studi utama. Kedua golongan ini hanya merupakan sepuluh setengah persen dari populasi muslim dunia.[6] Berpijak kepada ajaran Shihabuddin Shuhrawardi yang dituangkan dalam Hikmah Al-Isyraq, golongan Syi’ah meyakini logika kebersamaan Allah dan alam semesta ibarat matahari dan pancaran sinarnya, keduanya tidak terpisahkan. Allah diibaratkan matahari dan alam semesta memancar, beremanasi dari Allah.[7]

Namun demikian, pada umumnya, khususnya golongan Sunni—yang membentuk sembilan puluh persen atau mayoritas dunia Islam[8]—meyakini alam ini hadits. Kaum tradisionalis ini meyakini bahwa alam ini pernah bermula, pernah diciptakan pada suatu titik waktu dan pada suatu saat nanti akan berakhir.

Zahir Ayat Al-Qur’an Mendukung Teori Penciptaan Alam Semesta

Pada suatu ayat Al-Qur’an disebutkan bahwa Allah menciptakan langit bertingkat-tingkat[9] dan pada ayat lainnya diterangkan penciptaan tersebut terjadi dalam enam periode[10].

Akan tetapi, yang cukup menarik adalah adanya ayat Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa Allah bukan hanya menciptakan langit dan bumi, tetapi menciptakan “sesuatu” di antara keduanya[11], seolah-olah ayat tersebut sedang menyinggung dark matter—materi tak bercahaya yang mengisi sembilan puluh persen massa alam semesta dan menjadi penghubung antar-bintang dan antar-galaksi seperti jaring laba-laba[12]—yang sejak empat puluh satu tahun yang lalu telah menjadi topik pembicaraan hangat dalam disiplin astronomi dan astrofisika.

Betapa banyak ayat Al-Qur’an yang menyebutkan penciptaan langit dan bumi sehingga kita dapat menyimpulkan dengan jelas bahwa alam semesta ini pernah Allah ciptakan. Namun, cobalah perhatikan ayat berikut ini yang tampaknya berbicara lebih jelas tentang keawalan dan kesendirian Allah pada zaman azali:

هُوَ الْاَوَّلُ وَالْاٰخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al-Hadid: 3)

Senada dengan maksud ayat di atas, ada pula sebuah riwayat dari Abu Hurairah yang menarik untuk kita dengarkan. Kata sahabat nabi yang mencintai kucing itu Nabi Muhammad pernah bersabda:

Sesungguhnya setelah aku tiada nanti kalian akan ditanyakan tentang segala sesuatu, bahkan nanti akan ada yang menanyakan: Kami mengakui Allah yang menciptakan segala sesuatu tetapi siapakah yang menciptakan-Nya?” Lalu, Abu Hurairah mengatakan, “Apabila ada orang yang bertanya kepadamu tentang hal itu maka katakanlah: Allah Pencipta segala sesuatu. Allah sudah Ada sebelum adanya segala sesuatu. Dan Allah akan tetap ada setelah tidak adanya segala sesuatu.”[13]

Bangunan Pertama di Alam Semesta: ‘Arsy

Berdasarkan dalil-dalil di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa pada mulanya hanya ada Allah, tidak ada apapun lagi. Hanya ada kehampaan yang dilukiskan oleh sebuah hadits, مَا فَوْقَهُ هَوَاءُ وَ مَا تَحْتَهُ هَوَاءُ, baik di atas (above)nya maupun di bawahnya, hampa udara.[14] Tetapi, kemudian, Allah ingin menciptakan kerajaan akbar di mana Allah sendiri akan menjadi Rajanya dan akan ada ciptaan-ciptaan—yang dalam bahasa Arab disebut makhluq—yang harus tunduk bersujud menyembahnya.

Maka, untuk itu, pertama-tama, Allah pun membangun sebuah pusat pemerintahan, sebuah bangunan yang sangat besar dan agung yang ukurannya jauh lebih besar daripada langit yang saat ini kita kenal.

Arsy, pusat pemerintahan alam semesta ini, tercipta dari cahaya, memiliki sebuah kubah di atasnya dan di bawah serta di sekelilingnya mengalirlah empat sungai cahaya yang amat berkilauan, yang satu bak api menyala merah merona dan yang lainnya bak salju nan putih menyejukkan.

Asisten Allah di Alam Semesta: Para Malaikat

Pada saat Arsy dibangun, kemungkinan besar, Allah pun menciptakan malaikat, sebab nantinya para malaikat itu yang akan bekerja mengurus ‘Arsy: sebagian dari mereka akan  memikul tiang-tiangnya yang besar dan sebagian yang lain akan memuji-muji Allah di sekelilingnya[15].

Para malaikat adalah makhluk yang tercipta dari cahaya[16] dan karena itu, mereka pun bergerak dengan kecepatan cahaya sehingga tak aneh jika Al-Qur’an menyebutkan bahwa sehari di alam gaib itu dapat setara dengan seribu atau lima puluh ribu tahun bagi manusia—yang bergerak, relatif, sangat lambat.

Para malaikat itu, yang juga merupakan serdadu-serdadu langit,[17] terbang dengan dua, tiga, dan empat sayap, bahkan ada pula yang terbang dengan lebih banyak sayap[18], semisal Jibril, panglima tertinggi para malaikat, Allah memberikan untuknya enam ratus sayap.[19]

Para malaikat tidak makan dan tidak pula minum[20]. Mereka semua diprogram untuk menjadi asisten Allah, mereka hanya menjalankan perintah Allah. Seperti disebutkan di muka, sebagian dari mereka akan memikul ‘Arsy dan kelak nanti, mereka akan akan menjadi aktor-aktor di balik keteraturan alam semesta, mereka akan menjadi “mesin gaib” yang saat ini kita kita sebut “gaya gravitasi”, “gaya elektromagnetik”, “gaya nuklir lemah” dan “gaya nuklir kuat” atau mungkin, menjadi the theory of everything yang sedang dicari-cari oleh para astrofisikawan.

Selain bertanggung-jawab atas keteraturan ini, mereka pun bertanggung-jawab untuk membantu Allah mempersiapkan dan melaksanakan sebuah rencana yang sebentar lagi akan Allah titahkan.

Al-Qolam dan Cetak Biru Rencana Allah

Sekarang Arsy sudah dibangun, para malaikat pun telah siap untuk melaksanakan tugas-tugasnya. Semua pra-sarana untuk memulai sebuah kerajaan akbar dan sebuah pemerintahan agung telah selesai disiapkan. Maka sekarang, Allah akan memulai proyek pembangunan alam semesta yang lokasinya akan berada di bawah ‘Arsy.

Sebelum memulai pembangunan itu, sebuah cetak biru harus dibuat. Maka, Lima puluh ribu tahun sebelum pembangunan, terlebih dahulu Allah menciptakan Al-Qolam, pena[21].

Janganlah kita bayangkan pena ini seperti batang berujung runcing, berisi tinta, yang biasanya kita pergunakan untuk menulis di atas kertas. Al-Qolam adalah teknologi yang belum terjangkau oleh nalar dan sains modern kita, teknologi maha-canggih yang akan Allah gunakan untuk menulis taqdir alam semesta. 

Sebagian dari kita mungkin akan bersikap skeptis dan bertanya-tanya: bagaimana bisa sebuah pena menuliskan taqdir yang nantinya akan menjadi kenyataan? Pena macam apa? Apakah seperti kapur Rudy Tabootie dalam film kartun Amerika, Chalk Zone, yang menggambar di udara lalu gambar itu mewujud menjadi nyata? Apakah hal seperti ini masuk akal?

Bagi orang-orang yang beriman kepada Al-Qur’an, pertanyaan ini tidak relevan. Karena mereka percaya bahwa Allah berkuasa, Qadir, untuk melakukan segala sesuatu. Akan tetapi, bukan berarti kita tidak boleh membicarakannya dengan bahasa logika. Selain bahasa logika dapat memperkuat dalil-dalil akidah dalam berkomunikasi dengan orang-orang non-muslim, seperti yang kerap dilakukan oleh Dr. Zakir Naik, bahasa logika juga dapat memberikan ketenangan hati bagi orang-orang beriman.

Namun, terus terang, kita harus mengatakan bahwa Pena Allah, Al-Qolam, menuliskan taqdir dengan suatu “algoritma” yang sampai kini masih belum dapat dipahami oleh sains modern.

Kita, sains modern kita, mungkin merasa telah menjawab segala pertanyaan dengan kemajuan sains, tapi sebenarnya tidak. Banyak hal yang masih menjadi misteri termasuk soal taqdir.

Akan tetapi, cobalah kita perhatikan “pena” yang digunakan oleh para programmer di bidang IT! Mereka menuliskan algoritma lalu sebuah robot dapat berjalan melakukan tugasnya. Mereka menuliskan algoritma pada sebuah smartphone yang memungkinkan seorang anak di Jakarta dapat mengirimkan fotonya kepada temannya di Mesir, melintasi jarak 9000Km dan foto tersebut langsung diterima oleh temannya pada waktu yang sama.

Boleh jadi, seribu tahun yang lalu, pembicaraan tentang manusia yang terbang di angkasa akan dianggap sebagai omong kosong, tetapi lihatlah apa yang sudah dapat kita lakukan sekarang dengan pesawat terbang?

Banyak hal yang sampai kini belum kita pahami, termasuk tentang Al-Qolam, tapi mungkin pemahaman kita tentang topik ini akan berkembang lebih baik setelah seratus tahun yang akan datang.

Akan tetapi, tanpa menunggu seratus tahun ke depan, melalui petunjuk Nabi Muhammad, kita sekarang sudah mengetahui satu hal bahwa Al-Qolam menuliskan algoritma alam semesta: the theory of everything, mulai dari force, gaya, yang menyimpan energi dahsyat pra-big bang sampai terbentuknya bumi, pohon, binatang, dan segala isinya, termasuk taqdir manusia. Singkat kata, Al-Qolam akan melukiskan apapun dari tingkat makrokosmos sampai tingkat mikrokosmos, dari urusan gerak bintang dan galaksi sampai perkara gerak sel yang ajaib, atom, quark, bahkan yang lebih kecil dari itu.

Menurut hadits, terjadilah dialog antara Allah dan Al-Qolam. Kata Allah: أُكْتُبْ, “Tulislah!” Lalu Al-Qolam bertanya, يَا رَبِّ وَ مَا أَكْتُبُ؟ “Wahai, Tuhanku, apa yang akan kutulis?”. Allah pun berkata, اُكْتُبِ الْقَدْرَ وَ مَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى الْأَبَدِ, “Tulislah takdir dan semua yang terjadi sampai waktu yang panjang (yakni sampai hari kiamat).[22]

Setelah Al-Qolam menulis semuanya, disimpanlah catatan taqdir itu di langit, di pusat arsip yang disebut Lauh al-Mahfuzh.

Penciptaan Ka’bah Langit

Sekarang semuanya sudah benar-benar siap. ‘Arsy, pusat pemerintahan Allah yang begitu agung sudah tegak berdiri, para malaikat sebagian telah stand by di posnya masing-masing dan sebagian yang lain juga telah siap melaksanakan tugas-tugas penciptaan dan pemeliharaan.

Sementara itu, Bait al-Makmur yang merupakan Ka’bah langit juga sudah dibangun. Malaikat, para penduduk langit itu, setiap hari beribadah di sana.

Kelak nanti, ketika alam semesta sudah tercipta dan bumi yang direncanakan sudah terbentuk, akan dibangun persis di bawah—dan sejajar dengan—Bait al-Makmur sebuah rumah ibadah. Ka’bah, rumah ibadah di bumi itu akan menjadi Bait al-Makmur di muka bumi. Jika di langit para malaikat yang berthawaf di Bait al-Makmur, maka di bumi, makhluk lainlah yang akan melakukannya.

Maka, dimulailah penciptaan. Allah bertitah dari ‘Arsynya: kun. “Jadilah!”

Catatan

  1. Stephen Hawking, Riwayat Sang Kala: Dari Dentuman Besar hingga Lubang Hitam (Jakarta: Pustaka Utama, 1995) hal. 9
  2. Kalam atau Ilmu Kalam adalah salah satu disiplin ilmu Islam yang mendiskusikan tentang ketuhanan.
  3. Murtadha Muthahari, Tema-Tema Penting Filsafat Islam (Bandung: Yayasan Muthahari, 1993) hal. 67
  4. Al-Ghazali, Tahafut Al-Falasifah Kerancuan Para Filosuf (Jakarta: Panjimas, 1986) hal. 17
  5. A. Hanafi, Antara Imam Al-Ghazali dengan Imam Ibnu Rusyd dalam Tiga Persoalan Metafisika (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1981) hal. 21
  6. 500 Tokoh Muslim: 500 Tokoh Muslim Dunia Paling Berpengaruh Saat ini (Jakarta: Ufuk Publishing House, 2001) hal. 38
  7. Muthahari, Tema-Tema Penting Filsafat Islam … hal. 71
  8. 500 Tokoh Muslim… hal. 38
  9. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? (QS. Nuh: 15)
  10. Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy … (QS. Al-A’rof: 54)
  11. Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan (QS. Al-Ahqof: 3)
  12. Moedji Raharto, “Rasionalitas dan Wahyu dalam Pemerintahan Tuhan”, Kata Pengantar dalam buku Arifin Muftie, Pemerintahan Tuhan: Perjalanan Sains Menjelajah Al-Qur’an (Bandung: Kiblat, 2005) hal. 12
  13. H.R. Bukhari dan Muslim, Lihat Ibnu Jarir Ath-Thabari, Shahih Tarikh Ath-Thabari (Jakarta: Pustaka Azam, 2011) hal. 241 dan 242.
  14. HR. Tirmidzi dari Abu Razin Al-Uqaili (Dihasankan oleh Tirmidzi)
  15. (Para malaikat) yang memikul ‘Arsy dan yang berada di sekitarnya, mereka bertasbih memuji Tuhan mereka … QS. Mukmin/Ghafir: 7
  16. Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api, dan Adam diciptakan dari sesuatu asal-mula kalian diciptakan (HR. Muslim)
  17. QS. Al-Muddatsir: 31
  18. QS. Fathir: 1
  19. Rasulullah pernah melihat Jibril dalam wujud aslinya. Jibril memiliki 600 sayap. Setiap sayapnya dapat menutupi tepi langit. Dari sayap itu, intan berlian yang beraneka warna berjatuhan (HR. Ahmad)
  20. QS. Adz-Dzariat 24-28
  21. Sebetulnya ada pendapat yang memilih ‘Arsy sebagai makhluk yang pertama kali Allah ciptakan dan ada pula yang berpendapat Al-Qolam adalah yang pertama. Penulis berpendapat ‘Arsy merupakan makhluk yang pertama kali diciptakan berdasarkan sebuah hadits Shahih  yang mengatakan, “Allah sudah ada sebelum adanya segala sesuatu (ini bukti bahwa alam semesta ini pernah diciptakan). ‘Arsynya terletak di atas air (ini bukti bahwa ‘Arsy diciptakan pertama kali). Semua takdir telah dituliskan sebelum semuanya diciptakan (ini dapat dipahami bahwa setelah ‘Arsy Allah menciptakan Al-Qolam untuk menuliskan takdir seluruh makhluk). Kemudian diciptakanlah tujuh lapis langit”. Lihat Ath-Thabari, Shahih Tarikh Ath-Thabari, hal. 248
  22. Tirmidzi, Lihat Shahih Tafsir Ibnu Katsir (Bogor: Pustaka Ibnu Katsir, 2006) hal. 221

Leave a Reply

error: Content is protected !!