Home » Tiga Pilar Utama Deep Learning
Deep Learning (Belajar Mendalam) dalam pendidikan adalah suatu pendekatan pembelajaran yang bertujuan untuk mengembangkan pemahaman konsep dan penguasaan kompetensi siswa secara menyeluruh dan substansial, bukan sekadar menghafal fakta di permukaan (surface learning), dan hal ini sejalan dengan tuntutan kompetensi abad ke-21. Gagasan ini berakar kuat pada teori-teori pendidikan seperti Konstruktivisme (pengetahuan dikonstruksi oleh siswa melalui pengalaman) dan konsep berpikir reflektif (John Dewey), serta inspirasi dari Kecerdasan Majemuk (Howard Gardner), yang semuanya menekankan pada kualitas dan relevansi pembelajaran. Pendekatan ini kemudian menjadi diskursus di Indonesia sebagai langkah transformasi kurikulum untuk mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan masa depan, yang mana implementasi resminya, dengan pilar-pilar Meaningful, Mindful, dan Joyful Learning, mulai muncul dalam kebijakan dan kurikulum pendidikan nasional, salah satunya yang tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah pada tahun ajaran 2025/2026.
Dalam konteks pendidikan saat ini, Deep Learning (Belajar Mendalam) dipahami sebagai sebuah pendekatan pembelajaran yang fokus pada pengembangan pemahaman konsep dan penguasaan kompetensi secara komprehensif, bukan hanya sekadar menghafal fakta atau materi di permukaan (surface learning). Tujuannya adalah mendorong siswa untuk berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan mampu mengaplikasikan pengetahuannya dalam berbagai situasi nyata. Ini melibatkan eksplorasi materi yang lebih mendalam, memungkinkan siswa untuk menjelajahi dan menghubungkan topik yang dipelajari dengan konteks kehidupan sehari-hari mereka.
Pendekatan Deep Learning menjadi optimal ketika diintegrasikan dengan tiga pilar kunci: Mindful Learning, Meaningful Learning, dan Joyful Learning. Mindful Learning menekankan kesadaran penuh dan fokus, di mana siswa secara aktif menyadari apa yang mereka pelajari dan bagaimana mereka mempelajarinya (metakognisi), yang sangat penting untuk mencapai pemahaman mendalam. Meaningful Learning (Belajar Bermakna) memastikan bahwa materi yang dipelajari relevan dan terhubung dengan pengetahuan sebelumnya atau kehidupan nyata siswa, sehingga motivasi intrinsik dan retensi pengetahuan meningkat.
Pendekatan Deep Learning menjadi optimal ketika diintegrasikan dengan tiga pilar kunci: Mindful Learning, Meaningful Learning, dan Joyful Learning. Mindful Learning menekankan kesadaran penuh dan fokus, di mana siswa secara aktif menyadari apa yang mereka pelajari dan bagaimana mereka mempelajarinya (metakognisi), yang sangat penting untuk mencapai pemahaman mendalam. Meaningful Learning (Belajar Bermakna) memastikan bahwa materi yang dipelajari relevan dan terhubung dengan pengetahuan sebelumnya atau kehidupan nyata siswa, sehingga motivasi intrinsik dan retensi pengetahuan meningkat. .Lalu, Joyful Learning (Belajar Menyenangkan) menciptakan lingkungan yang positif, memicu antusiasme dan motivasi, yang pada akhirnya memfasilitasi keterlibatan yang lebih dalam dan mengurangi kecemasan.
Bagaimana Deep Learning diterapkan dalam pelajaran PAI? Pertama, Meaningful Learning (Belajar Bermakna) memastikan bahwa materi PAI memiliki relevansi kuat dengan kehidupan nyata siswa, sehingga membangkitkan motivasi intrinsik. Contohnya, saat mempelajari materi Zakat, siswa tidak hanya menghafal syarat dan rukun, tetapi mereka diajak menganalisis data sosial di komunitas mereka. Mereka didorong untuk merumuskan bagaimana distribusi zakat dapat menjadi solusi konkret untuk masalah kemiskinan lokal, secara efektif mengaitkan perintah agama dengan realitas sosial.
Kedua, Mindful Learning (Belajar Berkesadaran) memfokuskan siswa pada proses metakognisi dan refleksi diri. Dalam pembelajaran Akhlak Mulia (misalnya, kejujuran), siswa diajak melakukan jurnal refleksi harian setelah mempelajari dalil dan kisah teladan. Melalui jurnal ini, mereka merenungkan pengalaman pribadi mereka, mengidentifikasi tantangan dalam menerapkan kejujuran, dan merencanakan langkah-langkah perbaikan perilaku. Pilar ini membantu internalisasi nilai-nilai agama menjadi karakter yang disadari.
Terakhir, Joyful Learning (Belajar Menggembirakan) menciptakan lingkungan emosional yang positif dan memicu antusiasme. Untuk materi Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) atau Sirah Nabawiyah, siswa dapat bekerja sama dalam kelompok untuk membuat video pendek kreatif atau sandiwara tentang kisah-kisah inspiratif, seperti peristiwa Hijrah atau kepemimpinan Nabi Muhammad. Aktivitas kolaboratif, kreatif, dan berbasis proyek ini menjadikan eksplorasi materi sejarah menjadi pengalaman yang interaktif dan menyenangkan, mendorong keterlibatan yang lebih dalam.
Dengan mengintegrasikan ketiga pilar ini, pembelajaran PAI bergeser dari sekadar transmisi pengetahuan menjadi sebuah proses yang holistik, di mana siswa tidak hanya memahami ajaran, tetapi juga menghayati dan mewujudkannya dalam tindakan nyata.
Penerapan deep learning di jenjang pendidikan dasar dan menengah sangat penting karena pada tahap ini terjadi perkembangan kognitif dan emosional yang signifikan. Di tingkat dasar, deep learning membangun fondasi pemahaman yang kuat melalui kegiatan eksploratif dan interaktif, seperti diskusi kelompok dan eksperimen.
Di tingkat menengah, pendekatan ini membantu siswa mempertajam kemampuan berpikir kritis dan analitis melalui proyek penelitian dan studi kasus. Penerapan deep learning juga bertujuan menumbuhkan motivasi intrinsik siswa dengan mengajak mereka menemukan makna dalam pembelajaran, baik dalam konteks tujuan jangka panjang (motivasi integratif) maupun pencapaian hasil tertentu (motivasi instrumental)
Penelitian Jiang (2022) menunjukkan bahwa siswa yang terlibat dalam pembelajaran mendalam menunjukkan pemahaman yang lebih baik, motivasi yang lebih tinggi, serta kemampuan penerapan pengetahuan yang lebih mumpuni. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam deep learning turut meningkatkan aksesibilitas dan efektivitas Pendidikan
Jiang, R. (2022). Understanding, Investigating, and promoting deep learning in language education: A survey on chinese college students’ deep learning in the online EFL teaching context. Frontiers in Psychology, 13, 1–18. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.955565