sahabat pai logo new
Facebook
WhatsApp
Email

Penerapan Problem-based Learning (PBL) dan Project-based Learning (PjBL) dalam Pelajaran PAI

project based learning akad nikah

Berikut ini adalah perbedaan antara Problem-based Learning (PBL) dan Project-based Learning (PjBL):

Aspek Penerapan dalam PAI (Materi: Jujur dan Menepati Janji - Akhlak)
1. Orientasi Siswa pada Masalah Guru menyajikan kasus: "Banyak siswa berjanji akan mengumpulkan tugas tepat waktu, tetapi sering terlambat dan memberikan alasan yang tidak jujur agar terhindar dari sanksi. Hal ini merusak kepercayaan guru dan teman. Bagaimana pandangan Islam terhadap masalah ini?"
2. Mengorganisasikan Siswa untuk Belajar Siswa dibagi dalam kelompok kecil. Mereka diminta merumuskan masalah (mengapa perilaku ini terjadi?) dan menentukan apa yang perlu dipelajari (Apa dalil dan dampak dari tidak jujur dan tidak menepati janji?).
3. Membimbing Penyelidikan Individu & Kelompok Siswa mencari dalil dari Al-Qur'an dan Hadis mengenai kewajiban jujur dan menepati janji, serta mencari contoh konkret dampak buruknya dalam kehidupan sosial dan agama.
4. Mengembangkan & Menyajikan Hasil Kelompok menyajikan hasil temuan mereka (dalil, konsekuensi dunia-akhirat, dan solusi Islam). Hasilnya bisa berupa analisis tertulis atau presentasi debat mengenai pentingnya siddiq dan amanah di lingkungan sekolah.
5. Menganalisis & Mengevaluasi Proses Guru dan siswa merefleksikan solusi yang paling sesuai dan mengevaluasi bagaimana dalil-dalil tersebut dapat mengubah perilaku di sekolah.

Adapun penerapan Project-based Learning (PjBL) dalam pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah sebagai berikut: 

Aspek Penerapan dalam PAI (Materi: Larangan Pergaulan Bebas dan Zina - Fiqih/Akhlak)
1. Penentuan Pertanyaan Mendasar Guru mengajukan pertanyaan: "Bagaimana cara kita (siswa) membuat media dakwah yang efektif dan menarik untuk mencegah pergaulan bebas dan zina di kalangan remaja dengan menggunakan platform media sosial?"
2. Menyusun Perencanaan Proyek Siswa membentuk tim proyek. Mereka merencanakan target audiens, platform (misalnya Instagram, TikTok, YouTube), jenis konten (video pendek, poster infografis), serta menentukan dalil-dalil kunci yang akan digunakan.
3. Menyusun Jadwal dan Monitoring Guru Tim membuat jadwal kerja (riset, scripting, pengambilan gambar/desain, editing). Guru memantau kemajuan proyek, memastikan konten sesuai dengan syariat dan etika Islami.
4. Menguji dan Menyempurnakan Produk Tim membuat draft konten (misalnya 5 seri infografis). Mereka menguji efektivitas konten tersebut ke teman sebaya (uji coba terbatas) dan menerima masukan untuk penyempurnaan.
5. Menyajikan Produk Proyek Tim mengunggah/mempublikasikan produk dakwah mereka di media sosial dan mempresentasikannya di kelas. Mereka menjelaskan proses pembuatan dan bagaimana konten tersebut mengaplikasikan konsep agama.
6. Evaluasi Pengalaman Guru dan siswa mengevaluasi kualitas produk (kreativitas dan kesesuaian syariat) dan proses kerja tim, serta merefleksikan nilai-nilai Islam yang mereka dapatkan selama proses proyek.
Scroll to Top